Minggu, 31 Agustus 2014

Takrif Tasbih

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ(
 (Bismillahir rohmanir rohim)

Pengucapan pujian kepada Allah secara berulang-ulang dengan menyebut Subhanallah, Maha Suci Allah. Mengakui kesucian Allah dari segala yang tidak layak bagi_Nya dan mengakui kesucian Allah dari segala kekurangan.

Demikian Takrif atau Definisi Tasbih, semoga bermanfaat. Apabila didalam tulisan ini terdapat kekeliruan, kepada Allah kami mohon ampun dan kepada pengunjung kami mohon maaf.




Takrif Tahlil

 
 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Pengucapan kalimat tauhid La ilaha illallah artinya : Tidak ada Tuhan selain Allah, secara berulang-ulang. Mengakui bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala tidak berhajat kepada yang selain_Nya, suci dari segala kekurangan, adapun segala yang selain_Nya itu berhajat kepada_Nya.

Demikian Takrif atau Definisi Tahlil, semoga bermanfaat. Apabila didalam tulisan ini terdapat kekeliruan, kepada Allah kami mohon ampun dan kepada pengunjung kami mohon maaf.

Mencakup Ketaatan

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ قَالُوْا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: اَلذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ


"al-Mufarridûn telah mendahului.” Para sahabat berkata, “Siapa al-Mufarridûn wahai Rasûlullâh?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allâh.”

Dari hadits di atas, terlihatlah makna al-mufarridun, yaitu orang yang terus-menerus berdzikir kepada Allâh dan menyukainya. Orang yang banyak berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla , mengikuti contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hatinya ingat kepada Allâh Azza wa Jalla dan batas-batas-Nya, maka dia termasuk orang yang bertakwa. Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu telah menjelaskan makna takwa ini pada saat beliau menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allâh dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya…” [Ali ‘Imrân/3:102]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى ، وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى ، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَرَ


Hendaklah Allâh itu ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri.

Contoh teladan kita adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ


Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingat Allâh dalam setiap keadaannya.

Salah seorang dari tujuh orang yang dinaungi Allâh Azza wa Jalla dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya diantaranya ialah orang yang berdzikir kepada Allâh di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya.

Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

... وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ...


“… Dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allâh di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya …”

Hati orang-orang yang mencintai Allâh Azza wa Jalla tidak akan tenang kecuali dengan dzikir kepada-Nya dan jiwa orang-orang yang rindu kepada-Nya tidak tenang kecuali ingin berjumpa dengan-Nya. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya dalam setiap keadaan dan memuji orang-orang yang berdzikir. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman 

Alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba alnnaari

Artinya, "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari adzab neraka.’” (Ali ‘Imrân/3:191)

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu 'aklam bishshowab...

Adab Berdzikir

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim) 
Setelah mengetahui keutamaan berdzikir, hendaknya seorang muslim menghiasi hari-harinya dengan dzikrullah. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Hendaknya engkau senantiasa membasahi lidahmu dengan dzikrullah. (HR. Ahmad).

Di dalam berdzikir, seorang muslim dianjurkan untuk melakukannya dengan adab-adab sebagai berikut :

  1. Berdzikir dengan suara yang lemah lembut dan penuh kekhusyu’an. Allah berfirman artinya : Dan berdzikirlah mengingat Tuhanmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raaf: 205).
  2. Tidak berteriak dan mengeraskan suaranya. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Tatkala orang-orang meninggikan suara mereka dalam berdo’a di sebuah perjalanan, maka Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegur mereka dengan bersabda: Wahai manusia, sayangilah diri-diri kalian! Sesungguhnya kalian tidak sedang berdo’a kepada sesuatu yang bisu dan jauh. Akan tetapi Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Dekat, bahkan lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
  3. Jika berada dalam sebuah jama’ah (baik jama’ah shalat, jama’ah pengajian, maupun jama’ah dalam kendaraan), maka hendaknya masing-masing berdzikir dengan suaranya sendiri-sendiri, dan tidak dilakukan secara berjama’ah (satu suara/koor/dipimpin). Dalilnya adalah dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Kami berangkat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di waktu pagi hari itu dari Mina menuju Arafah. Di antara kami ada yang bertakbir, ada pula yang bertalbiyah. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya. (HR. Ibnu Maajah.Syaikh Al-Albaany berkata, Shahih). Seandainya melakukan dzikir dengan cara berjama’ah disyari’atkan, tentunya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tepat mencontohkan hal itu kepada umatnya dan seharusnya melarang para sahabat pada waktu itu karena ketidakkompakan mereka dalam berdzikir.
  4. Jika dzikir yang dilakukan berupa membaca Al-Qur’an maka tidak dibolehkan membacanya dalam keadaan junub (hadats besar), baik membacanya dengan hafalan apalagi membacanya dengan membuka mushaf. Dari ‘Ali bin Abi Thaalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi jamban untuk membuang hajatnya. Setelah keluar dari jamban, lalu beliau makan daging dan roti bersama kami, dan membaca Al-Qur’an. Tidaklah menghalangi beliau dari membaca Al-Qur’an kecuali ketika beliau dalam keadaan junub. (HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih). 
Wallaahu a’lam. Wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Batasan Banyaknya

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)
 
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdzikir (ingat) kepadaNya. Dalam ayat Al-Qur’an dan sabda Rasul kita temui perintah-perintah yang sangat banyak tentang hal ini. Pada dasarnya, perintah untuk berdzikir bersifat umum, tanpa pembatasan jumlah tertentu dan tidak terikat juga oleh keadaan-keadaan tertentu.
 

Di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 191, Allah SWT ber­firman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah (ber­dzikir) sambil berdiri, duduk, dan ber­baring.”. Begitu juga dengan firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang arti­nya, “Hai orang-orang yang beriman, ber­dzikirlah dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dan bertas­bih­lah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”. Sedangkan dalam surah Al-Jumu‘ah Allah SWT berfirman yang artinya, “Ber­dzikirlah kamu kepada Allah dengan dzi­kir yang banyak, agar kalian mendapat­kan keberuntungan.”
Selanjutnya di dalam hadits riwayat Mus­lim diterangkan sebagai berikut, “Ra­sulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa se­tiap selesai shalat membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali, lalu supa­ya cukup seratus ia membaca Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarika lah, lahul-mul­ku walahul-hamdu wahuwa `ala kulli syay-in qadîr, niscaya dihapuskan dosa-dosa­nya walaupun sebanyak buih di lautan’.”
Dari uraian hadits itu dapatlah di­ketahui adanya penetapan waktu dan jumlah dzikir, yakni usai shalat membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alham­dulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, dan dilengkapi menjadi 100 dengan kalimat di atas.
- See more at: http://nurulmakrifat.blogspot.com/2014/03/berdzikir-menggunakan-tasbih.html#sthash.CK1hJDUI.dpuf
Di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 191, Allah subhanahu wa ta'ala ber­firman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah (ber­dzikir) sambil berdiri, duduk, dan ber­baring.”. Begitu juga dengan firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang arti­nya, “Hai orang-orang yang beriman, ber­dzikirlah dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dan bertas­bih­lah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”. Sedangkan dalam surah Al-Jumu‘ah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya, “Ber­dzikirlah kamu kepada Allah dengan dzi­kir yang banyak, agar kalian mendapat­kan keberuntungan.”

Selanjutnya di dalam hadits riwayat Mus­lim diterangkan sebagai berikut, “Ra­sulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa se­tiap selesai shalat membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali, lalu supa­ya cukup seratus ia membaca Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarika lah, lahul-mul­ku walahul-hamdu wahuwa `ala kulli syay-in qadîr, niscaya dihapuskan dosa-dosa­nya walaupun sebanyak buih di lautan’.”
 
Dan untuk mengetahuinya jumlah bilangan dalam dzikir, sebagian kaum muslimin menggunakan tasbih dalam dzikir mereka tersebut. Namun hal ini di pandang oleh sebagian golongan sebagai perbuatan munkar/buruk dan bid’ah/sesat. Apakah memang benar demikian ?

Hadits diriwayatkan dari Umm al-Mukminin, salah seorang istri Rasulullah, bernama Shafiyyah. Bahwa beliau (Shafiyyah) berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، فَقَالَ: لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذَا؟ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ؟ فَقَالَتْ: عَلِّمْنِيْ، فَقَالَ: قُوْلِيْ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ مِنْ شَىْءٍ (رواه الترمذي والحاكم والطبرانيّ وغيرهم وحسّنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار)


“Suatu ketika Rasulullah menemuiku dan ketika itu ada di hadapanku empat ribu biji-bijian yang aku gunakan untuk berdzikir. Lalu Rasulullah berkata: Kamu telah bertasbih dengan biji-bijian ini?! Maukah kamu aku ajari yang lebih banyak dari ini? Shafiyyah menjawab: Iya, ajarkanlah kepadaku. Lalu Rasulullah bersabda: “Bacalah: “Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Min Sya’i” (HR. at-Tirmidzi, al-Hakim, ath-Thabarani dan lainnya, dan dihasankan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Nata-ij al-Afkar Fi Takhrij al-Adzkar)

Banyak di antara kita yang berdzikir de­ngan tasbih, atau dengan alat-alat peng­hitung yang lain, Tasbih, yang da­lam bahasa Arabnya disebut subhah, adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung banyaknya jumlah dzikir yang diucapkan oleh seseorang, baik dzikir dengan lidah maupun dzikir dengan hati.
Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyuruh para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau. Para imam ahli hadits juga me­riwayatkan hadits dari seorang wanita Muhajirin yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis. Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, ka­rena kelak jari-jari akan ditanya dan akan diminta berbicara.”
- See more at: http://nurulmakrifat.blogspot.com/2014/03/berdzikir-menggunakan-tasbih.html#sthash.CK1hJDUI.dpuf


Banyak di antara kita yang berdzikir de­ngan tasbih, atau dengan alat-alat peng­hitung yang lain, Tasbih, yang da­lam bahasa Arabnya disebut subhah, adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung banyaknya jumlah dzikir yang diucapkan oleh seseorang, baik dzikir dengan lidah maupun dzikir dengan hati.

Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyuruh para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau. Para imam ahli hadits juga me­riwayatkan hadits dari seorang wanita Muhajirin yang mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis. Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, ka­rena kelak jari-jari akan ditanya dan akan diminta berbicara.”

Demikian semoga ada manfaatnya. Wallahu 'aklam bishowwab...



Takrif Dzikir

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

         Berdizikir, berdoa, beristighfar, bertilawah Al Qur'an dan bersholawat adalah amalan-amalan utama  yang harus dibiasakan oleh setiap ummat Islam untuk kesempurnaan Iman dan Islamnya. Semua itu menjadi penawar bagi hati dan jiwa yang resah gelisah.

Takrif / Definisi dzikir adalah ucapan maupun perbuatan hamba yang disukai para umat Islam untuk menghasilkan jalan mengingat dan mengenang akan Allah ‎subhanahu wa ta'ala. Yang dimaksud dengan ucapan dalam dzikir, seperti lafadz-lafadz البقيّة الصالحات  yaitu: bacaan Tasbih, Tahlil, Tahmid, Taqdis, Taqbir, Hauqolah, Hasbalah, Istighfar dan Doa-doa yang ma'tsur yang diterima dari Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wassalam. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan dzikir yaitu perbuatan jiwa dan raga manusia yang tujuannya untuk ta’at kepada Allah subhanahu wa ta'ala. 



Selanjutnya, dari segi waktu dan tempat, dzikir tidak terbatas oleh waktu dan tempat, akan tetapi dzikir tetap memiliki etika yang harus dilaksanakan bagi pendzikir itu sendiri. Dzikir hanya terbatas pada ruang yang ditempati seperti ditempat-tempat yang dimakruhkan untuk mengucapkan lafazh-lafazh dzikir, contohnya di kakus dan ketika sedang membuang hajat, dikala sedang berjima’, sedangkan mendengarkan khutbah serta dalam keadaan mengantuk. Sedang pelaksanaan dzikir dapat dilakukan dalam segala rupa keberadaan kita, yakni dikala sedang duduk, di kala sedang berdiri dan sedang berjalan.

Adapun contoh-contoh bacaan dzikir diantaranya sebagai berikut:

1. Subhanallah ( سبحان الله )
2. Al-Hamdulillah ( الحمد لله )
3. Lailaaha Illallah ( لا اله الا الله )
4. Allahu Akbar (الله اكبر )
5. Laahawla wala quwwata illa billah ( لا حول ولا قوّة الاّ با لله )
6. Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wa ni’man nashir
    (حسبنا لله و نعم الوكيل نعم المولى و نعم النصير )
7. Astaghfirullahal ‘azhim (اشتغفر الله العظيم )

Sesungguhnya dzikir yang paling sederhana ialah zikir dengan lisan, seperti menyebut-nyebut nama-nama Allah. Dan derajat dzikir yang lebih tinggi yaitu dzikir dengan lisan dan zikir hati.

Demikian Takrif atau Definisi Dzikir, semoga bermanfaat. Apabila didalam tulisan ini terdapat kekeliruan, kepada Allah kami mohon ampun dan kepada pengunjung kami mohon maaf.


Jumat, 18 Februari 2011

Kata Sambutan

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)
Assalamu `alaikum Wr.Wb.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman artinya : ”Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al Baqarah 237). Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda artinya : “…dan barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, kemudian apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalas kebaikannya” (HR. Abu Daud, Nasai dan Ahmad dari Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma)

Dalam hadits yang lain disebutkan (artinya), “Barangsiapa yang diperbuat kebaikan kepadanya lalu dia mengucapkan kepadanya Jazakallahu khairon maka dia telah cukup dalam memuji kebaikannya” (HR. Tirmidzi dari Usamah bin Zaid radhiyallohu anhuma)

Berdasarkan ketiga dalil di atas maka kami Amrullah Ibrahim, S.Kom mengucapkan Jazakumullahu khairon kepada para guru dan pengarang buku yang telah menjadi sumber penulis blog Amar'luba "Kajian Dzikir" sebagai berikut :
  1. Guru dan ayahanda kami Muhammad Ibrahim bin Haji Hasan bin Aliakim bin Sinar bin Riamad bin Natakerti yang telah membimbing kami untuk mengenal ajaran agama Islam, khususnya pratik sholat,   pratik shoum romadhon dan belajar membaca Al Qur'an. Beliau telah membimbing semenjak kami masih kecil sampai dengan kami dewasa;
  2. Guru kami Drs. H. Umar Choli yang telah mendidik kami pada Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tanjung karang, provinsi Lampung. Ilmu pengetahuan agama Islam yang kami peroleh selama berlajar dibawah kepimpinan beliau adalah Ilmu Fiqih, Ilmu Tafsir, Ilmu Aqidah dan Bahasa Arab;
  3. Guru dan paman  kami Muhammad Rozzi yang telah membimbing latihan dzikir;
  4. Prof. Dr. T.M Hasbi Ash Shiddieqy sebagai pengarang Buku Pedoman dzikir dan doa yang telah kami jadikan referensi untuk menulis blog ini;
  5. Bey Arifin sebagai pengarang Buku Samudra Alfatihah yang telah kami jadikan inspirasi untuk membuat blog ini;
  6. Sayyid Sabiq sebagai pengarang Buku Fiqih Sunnah yang telah kami jadikan referensi untuk melengkapi sumber tulisan ini.
Atas segala bimbingannya  dan telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada kami yang begitu banyak, sehingga tidak mungkin kami sanggup membalasnya kecuali dengan mendoakan semuanya. Semoga Allah Dzat Yang Maha Mengetahui setiap perbuatan kebaikan hamba-Nya membalas dengan yang lebih baik di dunia dan akhirat.

Wassalamu `alaikum Wr.Wb.





 
Blogger Templates