Tampilkan postingan dengan label Tahlil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahlil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 September 2014

Keutamaan Dzikir Tahlil

   بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Istilah Tahlil berasal dari kata bahasa Arab Hallala, Yuhalilu, Tahlilan yang berarti membaca kalimah Thayyibah La Ilaha Illalah sebagai kalimat yang penting artinya bagi kaum muslimin yaitu pernyataan bahwa Tiada Sembahan selain Allah sekaligus sebagai fondasi keimanan seorang muslim. 

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم
 أفضل ما قلته أنا والنبيون من قبلي لا إله إلا الله وحده لا شريك له


Afdlalu maa qultu ana wan- nabiyyuuna min qablii "Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah).Artinya: "Yang lebih utama dari apa yang aku bacakan dan yang dibacakan oleh para nabi sebelumku, ialah: "Laa illaaha i'lla'llaahu wahdahu laa syariika lah".Artinya: 'Tiada Tuhan yang disembah, selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagiNya".


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم

"Barangsiapa membaca: لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير "Laa ilaaha i'lla'Haa hu wahdahu laa syariika lah, lahu'l-mulku wa lahu'l-hamdu wa hua 'alaa kullii syai-in qadiir", - Artinya:'Tiada Tuhan yang disembah, selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan bagiNya pujian dan Dia mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu", pada tiap-tiap hari seratus kali, niscaya adalah baginya menyamai dengan memerdekakan sepuluh orang budak. Dan dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapuskan daripadanya seratus kejahatan dan memeliharakannya dari setan pada hari itu sampai sore. Dan seorangpun tiada mengerjakan amalan, yang lebih utama dari-pada apa yang dikerjakannya itu, kecuaii seseorang yang berbuat amalan lebih banyak dari itu" .

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم 
Tiadalah seorang hamba yang berwudlu', lalu membaguskan wadlu'nya, kemudian mengangkatkan matanya kelangit, lalu membaca: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله  "Asyhadu an laa ilaaha i'llallaah, wahdahuu laa syariika lah, wa asyhadu a'nna Muhammadan 'abduhu warasuluh", - artinya:"Aku mengaku bahwa tiada Tuhan yang disembah, selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagiNya. Dan aku mengaku, bahwa Muhammad itu hambaNya dan RasulNya" - melainkan dibukakan baginya segala pintu sorga, ia masuk dari mana ia suka".


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم 

"Tidaklah atas orang-orang yang selalu membaca" لا إله إلا الله  Laa ilaaha i'lla'llaah, ketakutan didalam kubur dan pada kebangkitan. Seolah-olah aku melihat mereka ketika ditiup sangka-kala, menggerak-gerakkan kepalanya dari tanah, seraya mengucapkan: "Segala pujian bagi Allah yang telah menghilangkan dari kami kegundahan. Sesungguhnya Tuhan kami itu, maha pengampun dan maha bersyukur" (2).


Bersabda pula Nabi صلى الله عليه وسلم 

Kepada Abu Hurairah:"Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya tiap-tiap kebajikan yang engkau kerjakan, akan ditimbang pada hari qiamat, kecuali pengakuan: Tiada Tuhan yang disembah, selain Allah  لا إله إلا الله Lailaha i'lla'llah), maka ini tidak diletakkan dalam neraca. Karena kalau diletakkan dalam sebelah daun neraca orang yang mengucapkannya dengan sebenarnya dan diletakkan langit dan bumi yang tujuh lapis dan barang yang didalamnya, dalam sebuah lagi dari daun neraca itu, nescaya adalah لا إله إلا الله "Laa ilaaha i'lla'liaah" lebih berat dari itu".


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم.: 

"Jikalau datanglah orang yang membacakan لا إله إلا الله Laa ilaaha i'lla'liaah" dengan sebenar-benarnya, dengan dosa yang memenuhi bumi, niscaya diampunkan oleh Allah baginya yang demikian itu".


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم: 

"Wahai Abu Hurairah! Talkinkan orang yang mati dengan syahadat (pengakuan) bahwa: Tiada Tuhan yang disembah, selain Allah   لا إله إلا الله  (La ilaha i'lla'llah)", karena syahadat itu menghancurkan segala dosa". Lalu aku (Abu Hurairah) bertanya: "Ini untuk orang yang mati, maka bagaimana pula untuk orang yang hidup?" Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم.: "Lebih-lebih lagi menghancurkan!"


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم.: 

"Barangsiapa mengucapkan لا إله إلا الله "Laa ilaaha i'lla-llaah" dengan ikhlas, niscaya masuk sorga".


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم 

 "Sesungguhnya semua kamu akan masuk sorga, selain orang yang enggan dan lari dari Allah 'Azza wa Jalla, sebagai larinya unta dari pemiliknya". Maka ditanyakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.: "Wahai Rasulu'llah! Siapakah yang enggan dan yang lari dari Allah itu?" Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم "Orang yang tidak mengucapkan   لا إله إلا الله "Laailaaha i'lla'liaah". Dari itu, maka perbanyakkanlah membacakan لا إله إلا الله "Laa ilaaha i'lla'liaah" sebelum lagi terdinding antara kamu dan لا إله إلا الله Laa ilaaha i'lla'llaah". 

Hadits dari Abi Ayyub, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, 

Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: "Barangsiapa membaca :
لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير "Laa ilaaha i'lla'Maahu wahdahu laa syariika lah, lahu'l-mulku wa lahu'l-hamdu wa hua 'alaa ku'lli syai-in qadiir" sepuluh kali, niscaya adalah dia seperti orang yang memerdekakan empat jiwa dari putra Ismail s.a." Dirawikan Bukhari dan Muslim dari abu Ayyub

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Minggu, 07 September 2014

Dzikir Tahlil

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)


Analisa Tahlil

Tahlil adalah kesediaan untuk meng-Esa-kan Allah, tetapi tidak hanya sekedar ucapan lisan, tetapi jauh berpangkal dari dan dicerna dalam lubuk hati, serta kemudian memiliki dampak sebagai motivasi moral dan etik dalam menentukan pola berpikir, sikap dan berprilaku dalam kehidupan masyarakat.

Sewaktu kita mengucapkan dzikir tahlil, katakanlah misalnya : Laa ilaaha illallaah, jangan puas dengan ucapan kosong saja, jangan puas dengan hanya menghapal saja. Mengucapkannya berulang-ulang tanpa pengertian, tanpa pemahaman, tetapi perlu di ikuti dengan pemahaman dari pengertian mendalam yang terkandung dalam pedoman kehidupan kita yang dijanjikan Robb mampu membawa kebahagiaan dan kehidupan terang benderang didunia ini sebelum akhirat yaitu Al Qur’anul Karim. Jadi tekanan disini adalah agar kita mengerti, agar kita memahami sesuai bahasa Al Qur’an

Dalil Al Qur’an 

 Surah : Muhammad (47): 19

Fai'lam annahu laa ilaaha illaa allaahu waistaghfir lidzanbika walilmu/miniina waalmu/minaati waallaahu ya'lamu mutaqallabakum wamatswaakum. Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguh nya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.


Petunjuk dzikir

Lafazh dzikir tahlil 
Laa ilaaha illallaah yang berarti Tiada Robb selain Allah.

Mengucapkan kalimah tahlil “Laa ilaaha illallaah” dengan prinsip komunikas ilahiyah, berarti kita mencoba untuk benar-benar berbicara melalui hati di saat mengucapkan lafazh dzikir tahlil itu dengan menempatkan proses berpikir selayaknya dalam konteksnya masing masing. Dalam berdzikir seperti halnya tahlil ini, dengan proses komunikasi Ilahiyah ada pesan yang akan disampaikan 

Sebagai manusia yang dikaruniai Allah akal dan hati, pesan dapat dirumuskan sebagai hasil kristalisasi dari pemahaman pemahaman kita dengan segala latar belakang analisa pemikiran dan permasalahan kita masing masing dalam konteks pengucapan lafazh tahlil tersebut. Karenanya pada dan seiring dengan lafazh tahlil diucapkan ada pesan yang dirumuskan dalam hati dan disampaikan dengan hati yang berbicara dengan Allah.

Yang penting kita terus mencoba, berbicara dengan hati dengan lebih sempurna, berdzikir sambil berpikir dan berpikir sambil berdzikir, melatih diri mekanisme hati dan penyampaian pesan tersebut pada Allah Maha Pencipta. Kita selalu berusaha agar hati kita mampu berbicara dengan lebih baik dan lebih baik lagi. 

Referensi

Buku 1B : Memahami dan mendalami ajaran Al Qur’an
Pengarang : oleh Dr.Ir. H.M. Amin Aziz
Penerbit : PT. Bangkit Jaya Insana
Tahun : 1995 


 

Selasa, 02 September 2014

Syarat Kalimah Tauhid

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 
  (Bismillahir rohmanir rohim)

Syarat-Syarat  لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallah)

1    1.   Al-Ilmu (Mengetahui)

Orang yang mengucapkan kalimat tauhid harus memahami maknanya. Lawannya adalah al-jahlu (tidak tahu). Orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) dengan lisannya namun ia tidak memahami makna dan kensekuensinya maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya Bukankah orang kafir Quraisy di masa silam lebih mengetahui maknanya dibanding kaum muslimin di masa sekarang? Namun pengetahuan mereka tentang kalimat yang agung ini tidak menjadikan mereka beriman disebabkan mereka tidak mau mengamalkan apa yang mereka ketahui.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 

Artinya“ Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak mendapat syafaat (pertolongan di akhirat) kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka menyakini.” (QS Az-Zukhuf (43) :86).

Maksudnya orang yang bersaksi dengan لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu), dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkan, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

Dalil dari As-Sunnah

Hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari Utsman rodiyallahu anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullulah shollallahu Alaihi Wassallam bersabda :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
 “ Barangsiapa yang meninggal dan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, maka dia akan masuk surga” (HR. Muslim)

2    2. Al-Yaqin (Percaya)

Orang yang mengikrarkan kalimat tauhid  لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) harus yakin dengan kandungan kalimat tauhid itu. Manakala ia meragukannya, maka sia-sia belaka persaksian itu. Keyakinan yang akan menghilangkan keraguan pada diri seorang muslim. Artinya, yang mengucapkannya meyakini kebenaran, kandungan, dan konsekuensi kalimat tersebut, dengan keyakinan yang pasti dan bukan dengan zhan (praduga) belaka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ

Arinya “ Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (Q.S Al-Hujurat (49):15)

Ayat diatas menerangkan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensyaratkan bahwa agar keimanan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan RasulNya dikatakan sebagai iman yang sebenar-benarnya maka mereka harus yakin dalam artian tidak boleh ragu-ragu (dalam beriman). Orang yang ragu-ragu dalam beriman termasuk golongan orang-orang munafik.

Dalil As-Sunnah

Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassallam bersabda : “Siapa yang engkau temui dibalik tembok (kebun) ini, yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dengan hati yang menyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) surga” (HR. Bukhari). Maka siapa yang hatinya tidak menyakini atau ragu-ragu, ia tidak berhak masuk surga.

      3. Al-Ikhlashh (Rela)

Keikhlasan yang akan memadamkan segala gejolak kesyirikan, kemunafikan, riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar/populer) tatkala mengucapkannya. Karena ikhlas dalam pandangan agama adalah membersihkan amalan dengan niat yang baik dari segala noda-noda kesyirikan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 
Artinya “Ingatlah ! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar” (Q.S Az-Zumar (39):3)
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)” (Q.S Al-Bayyinah (98):5)

Dalil As-Sunnah

Dalam kitab Shahih Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam, beliau bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan   لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) dengan ikhlas dari dalam lubuk hatinya (atau dirinya).” (HR.Bukhari) 

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Itban bin Malik dari Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassallam, beliau bersabda

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

 “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan   لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) karena menginginkan ridha Allah.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

      4. Ash-shhidqu (Jujur)

Kejujuran yang akan menghilangkan sifat dusta. Artinya, orang yang mengucapkan kalimat  لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) harus dibenarkan oleh hatinya, karena jika dia mengucapkannya dengan lisan lalu hatinya tidak membenarkan apa yang diucapkan maka dia adalah orang munafiq dan pendusta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ألم, أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُوْلُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ
Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengucapkan kami beriman lalu tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orangorang sebelum mereka, agar Allah benarbenar mengetahui siapa di antara mereka yang jujur dan siapa yang berdusta.” (Q.S Al-’Ankabut: 1-2)

Artinya “ Diantara manusia ada orang-orang yang mengatakan , ‘kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, ‘padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, namun mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka telah berdusta.”  (Q.S Al-Baqarah (2) :8-10).

Dalil dari As-Sunnah

Hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Muadz Bin Jabal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam, beliau bersabda :

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلىَ النَّارِ
“Tidakkah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya dengan sebenar-benarnya dalam hati melainkan Allah mengharamkan masuk neraka.” (HR. Bukhari).

      5. Al-Mahabbah (Kecintaan)

Yaitu kecintaan yang menghilangkan lawannya yang berupa kebencian. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid ini harus mencintainya dan mencintai orang-orang yang mencintai kalimat ini. Adapun orang yang tidak mencintainya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya. Artinya cinta terhadap kalimat yang besar ini dengan segala konsekuensinya dan mencintai pula orang yang mengamalkan maknanya beserta syarat-syaratnya, juga membenci para penentangnya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ


“Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (di mana) mereka cinta kepadanya sebagaimana cintanya kepada Allah, sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Orang yang bertauhid akan mencintai Allah dengan kecintaan yang murni. Sebaliknya, orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala namun bersamaan dengan itu juga mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentu hal ini akan menafikan ketauhidannya.

      6. Al-Inqiyad (Patuh)

Ketundukan dan pasrah diri dalam melaksanakan segala konsekuensi kalimat tersebut dengan cara menolak semua jenis kesyirikan yang akan membatalkan ketauhidan. Yaitu berserah diri dan patuh dengan perbuatan atas peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.  Lawannya adalah berpaling dan meninggalkan. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid namun tidak tunduk dan patuh dengan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dan dia dalam berbuat baik, maka sugguh dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.” (Luqman: 22)

Artinya “ Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum dating azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (Q.S Az-Zumar (39): 54)

      7. Al-Qabul (Menerima)

Yaitu dengan menampakkan kebenaran kalimat tauhid dengan perkataan. Lawannya adalah menolak. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah. Sebaliknya, ia wajib menerima kandungan makna kalimat tauhid dengan baik. Artinya menerima kalimat tersebut dan kandungannya, dengan lisan dan hatinya, beserta segala konsekuensinya dengan menghilangkan sikap penolakan apa yang dituntut oleh kalimat tauhid tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ

"Sesungguhnya mereka jika diserukan untuk mengucapkan kalimat  لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) mereka menyombongkan diri. Dan mereka seraya berkata: Bagaimana kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena (seruan) seorang yang gila.” (Ash-Shaffat: 35-36)

Demikian syarat-syarat menegakkan kalimat tauhid  لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallahu) semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Hanya Allah tempat tujuan kami, semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai ibadah. Amin, Ya Robbal Alamin...

Makna lafazh Tahlil

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim) 

Makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله (La Ilaha Illallah)


Makna  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (La Ilaha Illallah) yaitu    لا معبود بحق إلا الله (Tidak ada (sesembahan) yang diibadahi dengan benar selain Allah). makna لاَ إِلَهَ menafikan (meniadakan) hak penyembahan selain Allah, siapa pun itu, entah itu patung, jin (setan), manusia (orang yang disembah dan dia ridha dengan penyembahan tersebut),makna إِلاَّ اللهُ melakukan pengisbatan (menetapkan) hak Allah semata untuk disembah.

Khabar لاَ   harus ditaqdirkan dengan bihaqqin (بحق /yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan maujud (موجود/ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini tentu kebatilan yang nyata.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ''aklam bish showab.

Keutamaan Tahlil


 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

 
Laa Ilaaha Illallah (لا اله الا الله  )

1. Dzikir dan yang paling utama dan berbobot.

Sabda Rasulullah sholallahu alaihi wassalam :

وعن أبي سعيد الخدري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « قَالَ مُوْسَى : يَا رَبِّ ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوْكَ بِهِ . قَالَ : قُلْ يَا مُوْسَى : لَا إِلَهَ إِلَّا الله ُ. قَالَ : يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هَذَا . قَالَ : يَا مُوْسَى ، لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي ، وَالأَرْضِيْنَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله ُفِي كِفَّةٍ ، مَالَتْ بِهِنَّ لا إله إلا الله » رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان ، وَالحْاَكِمُ وَصَحَّحَهُ .

Sabda Rasulullah sholallahu alaihi wassalam : “ Sesungguhnya Musa a.s. berkata : Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat mengingat dan berdo’a kepadaMu. Allah berfirman : Hai Musa, ucapkanlah laa ilaaha illallah. Musa berkata : Wahai Rabbku semua hambaMu mengucapkan ini. Allah berfirman : Hai Musa, ucapkankanlah laa ilaaha illallah. Musa mengucapkan : Laa ilaaha illallah,  saya hanya ingin sesuatu yang khusus bagi saya. Allah berfirman : Hai Musa, seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi dengan segala isinya selainKu berada di satu daun timbangan, dan laa ilaaha illallah berada di daun timbangan yang lain, niscaya lebih berat laa ilaaha illallah. 
(HR. Ibnu Hibban, Hakim dan ia menshahihkannya)

 2. Mendapatkan syafa’at Rasulullah sholallahu alaihi wassalam

 Sabda Rasulullah sholallahu alaihi wassalam :

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ .  ( رواه البخارى )      

Orang yang paling bahagia mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah     orang yang mengatakan laa ilaaha illallah murni dari hatinya. (HR. Bukhari)

3. Terhapusnya  dosa.

Firman Allah dalam hadits qudsi :

... يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ( روا الترمذي ، وقَالَ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ )

Wahai anak Adam, jika kamu datang menghadapKu dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dengan tidak menyekutukanKu, niscaya Aku akan menghadapimu dengan ampunan sepenuh bumi. (HR. Tirmidzi, hadits hasan) 

4. Menyebabkan selamat dari neraka.

 Sabda Rasulullah sholallahu alaihi wassalam :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ  (رواه مسلم)

Barangsiapa menyaksikan bahwa tidak ada ilaah yang berhak diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka atasnya. (HR. Muslim)

5. Menyebabkan masuk syurga.

Sabda Rasulullah sholallahu alaihi wassalam :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ  (رواه مسلم)

Tidaklah seorang hamba mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah , kecuali ia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Termasuk al-baqiyatush sholihat.

Al-baqiyatush sholihat artinya amalan-amalan yang kekal lagi shalih. Tatkala ditanya tentang makna kata tersebut, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yaitu ucapan La ilaha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, dan Laa haula wa laa quwwata illa billah.”(al-Musnad, 1/71)
 

Senin, 01 September 2014

Fadlilah Tahlil


 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Fadhilah Kalimah Tahlil "Laa ilaaha illallah"

 لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ


Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam pernah bersabda : “Perbaruilah imanmu sekalian! Kemudian ditanyakan oleh para sahabat : “Bagaimana cara memperbarui iman kita Ya Rasulullah? Maka Rasulullah menjawab : Perbanyaklah mengucapkan kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Kalimat tahlil yang berarti : “Tidak ada Tuhan kecuali Allah” mengandung beberapa keutamaan, antara lain:
 
Fadhilah pertama...
Orang yang membaca kalimah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ hanya untuk mencari ridha Allah, akan diharamkan oleh Allah masuk neraka. Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam bersabda:
اِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ يَبْتَغِى بِذٰلِكَ وَجْهَ اللهِ (رواه البخارى ومسلم)

Artinya : “Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka orang yang mengucap kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ dengan tujuan mencari ridha Allah. (HR. Bukhari-Muslim)

Fadhilah kedua...
Kalimat tahlil لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ merupakan benteng Allah dan orang yang masuk benteng Allah akan selamat dari siksaNya. Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam bersabda :
حَدَّ ثَنِى جِبْرِيْلُ قَالَ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ حِصْنِى فَمَنْ دَخَلَ اَمِنَ مِنْ عَذَابِى (رواه ابن عساكر عن على رضي الله عنه)

Artinya : “Malaikat Jibril bercerita kepadaku Jibril berkata : “Allah ta’ala berfirman kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ adalah bentengKu, maka barang siapa masuk ke bentengKu, niscaya selamat dari siksaKu (HR. Ibnu Asakir dari Ali RA)
 
Fadhilah ketiga...
Orang yang membaca لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ seratus kali, akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat wajahnya seperti bulan purnama, Rasulullah saw bersabda :
لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقُوْلُ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ مِائَةَ مَرَّةٍ اِلاَّ بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَمْ يَرْفَعْ لِاَحَدٍ يَوْمَئِدٍ عَمَلٌ اَفْضَلُ مِنْ عَمَلِهِ اِلاَّ قَالَ مِثْلَ قَوْلِهِ اَوْزَادَ (رواه الطبران)

Artinya : “Tidak ada seorang hamba yang mengucap kalimat لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ seratus kali kecuali Allah membangkitkannya pada hari kiamat sedang wajahnya seperti bulan purnama. Dan tidak ada amal seorang hamba yang melebihi keutamaannya pada hari kiamat daripada amalnya kecuali orang yang mengucap seperti ucapannya atau melebihinya. (HR. Thobroni)
 
Fadhilah keempat...
Orang yang bisa mengucap kalimah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ ketika mau meninggal dunia akan masuk surga. Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam. bersabda :
مَنْ كَانَ اٰخِرَ كَلاَمِهِ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya : “Barangsiapa yang akhir ucapannya kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
 

Fadhilah kelima...
Kalimah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ merupakan dzikir yang paling utama. Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam bersabda :
اَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاَفْضَلُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ ِللهِ (رواه الترميد والنسائى)
Artinya : “Seutama-utama dzikir adalah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ dan seutama-utama do’a ialah اَلْحَمْدُ ِللهِ (HR. At Turmudzi dan An Nasai)
 

Fadhilah keenam...
Kalimah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ timbangannya paling berat dibanding amalan yang lain. Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam pernah menceritakan bahwa nabi Musa 'alaihi sallam berdoa kepada Allah : “Wahai Tuhanku, beritahukanlah kepadaku sesuatu yang dengan itu aku bisa mengingatMu. Maka Allah berfirman : “Ucapkanlah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ Nabi Musa a.s. berkata : “Wahai Tuhanku, seluruh hamba-Mu mengucapkan yang demikian, tetapi saya mengharapkan sesuatu yang dengan sesuatu itu Engkau berkenan melindungi aku. Selanjutnya Allah berfirman :
يَامُوْسَ لَوْاَنَّ السَّمٰوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرُ هُنَّ غَيْرِى وَاْلاَرَضِيْنَ السَّبْعَ جُعِلَتْ فِى كَفَّةٍ وَلاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ فِى كَفَّةٍ لَمَالَتْ بِهِنَّ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ (رواه النسائى)

Artinya : “Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya selain Aku dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ lebih berat timbangannya (HR. An-Nasa’i)
Shahabat Abu Bakar ra, pernah berkata
عَلَيْكُمْ بِلاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاْلاِسْتِغْفَارِ وَاَكْثِرُوْا مِنْهُمَا فَاِنَّ اِبْلِيْسَ قَالَ اَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوْبِ وَاَهْلَكُوْنِى بِلاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاْلاِسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَاَيْتُ ذلِكَ اَهْلَكْتُهُمْ بِاْلاَهْوَاءِ وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ وَاَنَّهُمْ مُهْتَدُوْنَ(رواه ابويعلى)

Artinya : “Biasakanlah mengucapkan kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ dan membaca istigfar dan perbanyaklah membaca keduanya, karena sesungguhnya iblis berkata “Saya menghancurkan manusia dengan dosa – dosa dan manusia menghancurkan aku dengan bacaan لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ dan istigfar. Maka ketika saya mengetahui yang demikian itu, saya hancurkan mereka dengan hawa nafsu, sedang mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk (R. Abu Ya’la)
 

Fadhilah ketujuh...
Sabda-sabda Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam berikut ini:
“Dan sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan demikian pula yang diucapkan para nabi sebelumku adalah
Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ…” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadist sohih Rasulullah
shollahu 'alaihi wasallam bersabda :
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan:
Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ, barang siapa telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ, maka harta dan dirinya terlindung dariku, kecuali dengan sebab syara, sedangkan perhitungannya (terserah) pada Allah. (Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim: 30, Bab Iman)

Barangsiapa mengucapkan
Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ dan mengingkari seluruh sesembahan selain Allah maka harta dan darahnya haram dan hisabnya diserahkan kepada Allah (HR. Muslim) 


Pembuka pintu surga
Kalimah 
Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ merupakan harga surga, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,"Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah 'La ilaha illallah', maka dia akan masuk surga" (HR. Abu Dawud no. 1621)
 

Kebaikan paling utama
Kalimah Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ adalah kebaikan yang paling utama, Abu Dzar berkata,"Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal." Lalu Abu Dzar berkata lagi, "Wahai Rasulullah, apakah 'Laa ilaha illallah' merupakan kebaikan?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. 

Kalimah  Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ adalah dzikir yang paling utama, Dari Jabir rodhiyallohu 'anhu , dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam beliau bersabda : "Dzikir yang paling utama adalah laa ilaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah."(HR. Ibnu Majah, An Nasa'I - Shohih Targhib wa Tarhib : 1526 )
 

Pembebas api neraka
Kalimah Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ, adalah pelindung api neraka, Dari Umar rodhiyallohu 'anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam bersabda : "Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaha illallah. (HR. Hakim - Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 ).

Suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wa salam mendengar muadzin mengucapkan 'Asyhadu alla ilaha illallah'. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, "Engkau terbebas dari neraka."(HR. Muslim no. 873)
 

Perantara doa
Kalimat  Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ adalah dzikir dan perantara doa, Dari Abu Sa'id Al Khudri rodhiyallohu 'anhu dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam beliau bersabda : Musa berkata : Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang aku akan berdzikir dan berdoa kepadaMu dengannya. Allah berfirman : Wahai Musa ucapkanlah  Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ, Musa berkata : Wahai Tuhanku seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini. Allah berfirman : Wahai Musa ! Seandainya langit tingkat tujuh dan apa yang ada didalamnya serta bumi tingkat tujuh selain Aku diletakkan di suatu timbangan, dan  Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ, diletakkan di timbangan yang lain, maka akan berat timbangan laa ilaha illallah." (HR. Ibnu Hibban, Hakim - Fathul Bari : 11/28 )
 

Penghalang kiamat
Kalimat  Laa ilaaha illallah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ menunda kiamat, Dari Anas bin Malik rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Rasulullah sholallohu'alaihi wassalam bersabda : "Tidak akan terjadi kiamat (apabila) masih ada orang yang menyebut laa ilaha illallah".(HR. Ibnu Hibban, - Ta'liqotul Hisan : 6809, Ash Shohihah : 3016)
 

Mendatang kebaikan dan menghapus kejelekan
Dzikir Laa ilaha ilallah pahalanya paling banyak,Sebagaimana terdapat dalam shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,"Barangsiapa mengucapkan 'laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syay-in qodiir' [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian.Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu." (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018)

Sebagai sedekah
Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan Tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
Tembus ke pintu-pintu langit
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: "Setiap kali seorang hamba mengucapkan La ilaha illalllah dengan ikhlas, akan dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga ia akan tembus ke 'arasy selama dosa-dosa besar dijauhinya." (Riwayat Turmudzi yang menyatakan hadits ini.
Memperbarui Iman
Juga diterima dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: "Perbaruilah keimananmu!" Ditanya orang: "Ya Rasulullah, bagaimana caranya kami memperbarui keimanan kami ini ?" Ujarnya: "Perbanyaklah membaca La ilaha illallah!"
Dizikir paling utama
Diterima dari Jabir bahwa Nabi saw. bersabda: "Dzikir yang paling utama ialah La ilaha illallah, sedang do'a yang paling utama iala Alhamdu lillah." (Diriwayatkan oleh Nasa'i dan Ibnu Majah, juga oleh Hakim yang menyatakan sanadnya sah).

 
Blogger Templates