Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2014

Dzikir Shohih



 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Tinggallah sekarang memahami bagaimana dzikir yang benar. Dzikir yang benar adalah dzikir yang ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah semata. Bahkan keikhlasan ini juga sampai pada derajat, tidak boleh meninggalkannya karena takut riya’. Karena meninggalkan pekerjaan karena takut riya’ adalah riya’, sebagaimana dikemukakan Fudhail bin Iyadh:
قَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، "تَرْكُ الْعَمَلَ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لأَجْلِ النَّاسِ شِرْكُ، وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيْكَ اللهُ مِنْهُمَا
Fudahil bin Iyadh mengatakan, "Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah Allah melepaskanmu dari kedua hal di atas.

Selain keikhlasan, tentu saja dibutuhkan kesesuaian dengan tuntunan yang diajarkan Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam. Doa dan dzikir yang ma’tsur lebih utama dari doa yang tidak ma’tsur. Meskipun demikian, segala bentuk dzikir yang memuji Allah, memohon ampunannya atau bentuk-bentuk lainnya adalah dapat dilakukan, kendatipun tidak menggunakan lafal bahasa Arab sekalipun. Hal yang terpenting adalah agar senantiasa berdzikir dalam segala waktu dan kondisi. Di rumah, di masjid, di kendaraan, di jalanan, di tempat kerja, terlebih-lebih di medan da’wah.

Dua hal di atas merupakan hal yang paling pokok dalam melakukan dzikir. Dalam Al-Adzkar, Imam Nawawi menyarankan agar orang yang seyogyanya memperhatikan adab-adab dalam melakukan dzikir. Terutama ketika seseorang sedang berada dalam rumahnya, atau di suatu tempat yang layak. Diantara adab-adab tersebut adalah: hendaknya menghadap kiblat, posisi duduk yang menggambarkan kekhusyu’an dan ketakutan kepada Allah, menundukkan kepala, kemudian tempat yang digunakan untuk berdzikir hendaknya bersih dan sunyi, lebih afdhal juga jika seseorang dalam keadaan suci. Adapun jika berada pada suasana diluar masjid dan rumah, maka paling tidak keikhlasan, dan ketundukkan diri pada Allah subhanahu wa ta'ala.

Dzikir adalah suatu hal yang paling indah dalam kehidupan fana ini. Oleh karenanya, sesungguhnya tidak ada alasan apapun, yang membolehkan seorang muslim meninggalkan dzikir. Justru semakin seorang muslim tenggelam dalam kelezatan dzikir, semakin pula ia rindu dan rindu pada Dzat yang di sebutnya dalam dzikirnya. Dan jika seorang hamba rindu pada Kholiqnya, maka Sang Kholiq pun akan rindu padanya. Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam mengatakan, "barang siapa yang merindukan pertemuan dengan Allah, maka Allahpun merindukan pertemuan dengan-Nya… Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang senantiasa Engkau rindukan… Amiiin. Ya Robbal 'Alamin.

Demikian semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Hati dan Lisan



 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)



Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan, yang tidak mengenal batasan waktu. Bahkan Allah menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa menyebut Rabnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring. Oleh karenanya dzikir bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniah, namun juga qolbiah. Imam Nawawi menyatakan bahwa yang afdhal adalah dilakukan bersamaan di lisan dan di hati. Sekiranyapun harus salah satunya, maka dzikir hatilah yang lebih afdhal. Meskipun demikian, menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang harus diupayakan dalam dzikir. Imam Nawawi menyatakan:

المُرَادُ مِنَ الذِّكْرِ حُضُوْرُ الْقَلْبِ ، فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ هُوَ مَقْصُوْدُ الذَّاِكرِ فَيَحْرُصُ عَلَى تَحْصِيْلِهِ ، وَيَتَدَبَّرَ مَا يَذْكُرُهُ ، وَيَتَعَقَّلَ مَعْنَاهُ..

"Yang dimaksud dengan dzikir adalah menghadirkan hati. Seyogyanya hal ini menjadi tujuan dzikir, hingga seseorang berusaha merealisasikannya dengan mentadaburi apa yang didzikirkan dan memahmi makna yang dikandungnya.."

Dari sinilah muncul perbedaan pendapat mengenai dzikir dengan suara keras, atau dengan suara pelan. Masing-masing dari kedua pendapat ini memiliki dalil yang kuat. Dan cukuplah untuk menegahi hal ini, firman Allah dalam sebuah ayat:

Firman Allah surah Al-Isro' (110)

قُلِ ادْعُوْا اللهَ أَوِ ادْعُوْا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوْا فَلَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً

Quli ud'uu allaaha awi ud'uu alrrahmaana ayyan maa tad'uu falahu al-asmaau alhusnaa walaa tajhar bishalaatika walaa tukhaafit bihaa waibtaghi bayna dzaalika sabiilaan. Artinya : "Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"

Meskipun teks ayat di atas dimaksudkan pada bacaan shalat, namun ada juga riwayat lain yang menunjukkan bahwa dzikir dan doa juga termasuk yang dimaksudkannya juga.

قال ابن جرير: حدثنا يعقوب حدثنا ابن علية عن سلمة بن علقمة عن محمد بن سيرين قال: نبئت أن أبا بكر كان إذا صلى فقرأ خفض صوته وأن عمر كان يرفع صوته فقيل لأبي بكر لم تصنع هذا؟ قال أناجي ربي عز وجل وقد علم حاجتي فقيل أحسنت. وقيل لعمر لم تصنع هذا؟ قال أطرد الشيطان وأوقظ الوسنان قيل أحسنت فلما نزلت "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا" قيل لأبي بكر ارفع شيئا وقيل لعمر اخفض شيئا

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Sirin, "bahwa Abu Bakar senantiasa mengecilkan suaranya dalam shalat, sedangkan Umar mengeraskan suaranya. Hingga suatu ketika Abu Bakar ditanya mengenai pelannya suara, beliau menjawab, "Aku bermunajat kepada Rabku, dan Allah telah mengetahui keperluanku." Sementara Umar menjawab, "Aku mengeraskannya untuk mengusir syaitan dan menghancurkan berhala." Maka tatkala turun ayat ini, dikatakan kepada Abu Bakar agar mengeraskan sedikit suaranya dan kepada Umar agar dikecilkan sedikit suaranya."

وَقَالَ أَشْعَثُ بْنُ سِوَارٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ وَهَكَذَا رَوَى الثَّوْرِيُّ وَمَالِكٌ عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أََبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ

“Asy’ast berkata dari Ikrimah dari ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun pada permasalahan doa. Demikian juga Imam Sufyan al-Tsauri dan Malik meriwyatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah ra, bahwa ayat ini turun pada permasalahan doa.”
Dan doa merupakan bagian dari dzikir. Kemudian terlepas dari "jahr" dan "sir", yang paling penting adalah bagaimana hati dan lisan tidak pernah kering dari dzikrullah.

Demikian semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Urgensi Dzikir



 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Berdzikir dapat menghilangkan hati resah dan gelisah. Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram.

Firman Allah Ta'ala didalam Al-Qur'an surah Ar-rod (28) :

الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang."

Ketenangan bukanlah sebuah kata yang tiada makna dan hampa. Namun ketenangan memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakup kebahagian di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wata'ala ketika memanggil seorang hamba untuk kembali ke haribaan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya, menggunakan istilah ini:

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Mati dan Hidup



 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)


Dzikir merambah aspek yang luas dalam diri insan. Karena dengan dzikir, seseorang pada hakekatnya sedang berhubungan dengan Allah. Dzikir juga merupakan makanan pokok bagi hati setiap mu’min, yang jika dilupakan maka hati insan akan berubah menjadi kuburan. Dzikir juga diibaratkan seperti bangunan-bangunan suatu negeri; yang tanpa dzikir, seolah sebuah negri hancur porak poranda bangunannya. Dzikir juga merupakan senjata bagi musafir untuk menumpas para perompak jalanan. Dzikirpun merupakan alat yang handal untuk memadamkan kobaran api yang membakar dan membumi hanguskan rumah insan. Demikianlah diungkapkan dalam "Tahdzib Madarijis Salikin".

Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai orang yang mati:

عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذِّي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالذِّي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati." (HR. Bukhari)

Bahkan dalam riwayat lain, Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam juga mengumpamakannya dengan rumah. Rumah orang yang berdzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak berdzikir adalah seperti rumah orang mati, atau kuburan.

Seorang mu’min yang senantiasa mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah, akan sangat memerlukan porsi dzikrullah yang melebihi daripada porsi seorang muslim biasa. Karena pada hakekatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah mati. Namun bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala hatinya sendiri redup remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak poranda.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Senin, 22 September 2014

Hadits Doa - Dzikir

   بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Doa seseorang itu akan dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru menyebabkan dia berkata: Aku Berdoa Tetapi Tidak Dikabulkan [HR. Bukhari]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Tidak ada seorang muslim yang menghadapkan mukanya kepada ALLAH untuk berdoa, kecuali ALLAH memberikannya, kadang dipercepat dan kadang diperlambat [HR. Ahmad]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Perbanyaklah berbuat baik agar orang-orang mendoakan kebaikan untukmu, karena sesungguhnya seorang hamba itu tidak mengetahui, melalui lisan siapakah doanya dikabulkan atau ia diberi rahmat [HR. Al Khatib]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Berlindunglah kalian kepada ALLAH dari musibah yang memayahkan, kecelakaan yang menghinakan, takdir yang buruk dan penghinaan musuh [HR. Bukhari]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya seseorang benar-benar dihambat rezekinya disebabkan oleh dosa yang dikerjakannya. Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Tidak ada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. [HR. ibnu hibban melalui ibnu tsauban r.a]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang amal perbuatan yang paling baik buat kalian, paling suci (berharga) disisi kalian, dan paling banyak mengangkat derajat (pahala) kalian dan lebih baik bagi kalian daripada meng-infakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada perang menghadapi musuh kalian, lalu kalian memukul leher mereka dan mereka memukul leher kalian. Mereka menjawab: Tentu saja kami mau. Nabi sholallahu 'alihi wa sallam bersabda: Ber-Dzikir kepada ALLAH subhanahu wa ta'ala [HR. Tirmidzi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Semoga ALLAH merahmati seorang hamba yang mengucapkan kebaikan lalu ia mendapatkan keuntungan, atau ia diam tidak mengatakan hal yang buruk lalu ia selamat [HR. Ibnu Mubarak]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Dunia itu terkutuk, terkutuk (pula) apa yang ada padanya kecuali ingat kepada ALLAH dan apa yang mengiringinya atau orang yang mengajar atau orang yang belajar [HR. Tirmidzi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa mengingat ALLAH hingga kedua matanya menangis karena takut kepada ALLAH, hingga sebagian dari air matanya itu menetes ke tanah, niscaya ALLAH tidak akan meng-azabnya dihari kiamat [HR. Al Hakim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ALLAH berfirman: Hai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa kepada-KU dan kamu mengharapkan kepada-KU, AKU ampuni kamu bagaimanapun keadaanmu sebelumnya, AKU tidak perduli. Hai anak Adam, sekiranya dosa-dosamu mencapai awan dilangit, kemudian kamu minta ampun kepada-KU, AKU ampuni kamu dan AKU tidak perduli. Hai anak Adam, sekiranya kamu mendatangi AKU dengan membawa kesalahan-kesalahan yang hampir memenuhi bumi, kalau kamu bertemu AKU nanti dan tidak menyekutukan AKU dengan sesuatu, pasti AKU mendatangi kamu dengan membawa ampunan yang hampir memenuhi bumi pula [HR. Tirmidzi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ada tiga perkara yang menyelamatkan. yaitu : takut kepada ALLAH dalam keadaan sembunyi atau terang-terangan, bersikap adil, baik dalam keadaan ridho atau keadaan marah, baik dalam keadaan miskin maupun kaya [HR. Abusy Syekh]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Ada tiga perkara, barangsiapa ketiga perkara ada dalam dirinya niscaya ALLAH menempatkannya dibawah naungan-NYA dan Dia mencurahkan rahmat kepadanya serta memasukkannya kedalam Surga, yaitu: apabila diberi ia bersyukur, apabila diberi ia mampu membalas, apabila  marah ia sanggup menahan diri   [HR. Baihaqi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Tanda orang munafik ada tiga, yaitu apabila berbicara dusta, berjanji ingkar, dipercaya khianat [HR. Syaikhan]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Sesungguhnya ALLAH subhanahu wa ta'ala menurunkan pertolongan sesuai dengan kadar yang diperlukan, dan DIA menurunkan kesabaran sesuai dengan kadar cobaan [HR. Ibnu ’Addi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka ALLAH memberinya cobaan supaya ALLAH mendengar tadharru'-nya (rintihan meminta kepada-NYA) [HR. Baihaqi].

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya amal bergantung pada niatnya dan masing-masing orang hanya memperoleh dari apa yang diniatkannya karena itu barangsiapa hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA, berarti hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA dan bila hijrahnya kepada perkara duniawi maka ia memperolehnya [HR. Bukhari, Muslim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa memperbaiki bathiniahnya niscaya ALLAH akan memperbaiki lahiriahnya [HR. Al Hakim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Niat yang benar (tulus) bergantung di Arasy, apabila seorang hamba melaksanakan niatnya itu maka Arasy berguncang karenanya, lalu ia mendapat ampunan [HR. Al Khatib]
 
Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ada empat perkara, barangsiapa didalam dirinya, terdapat ke-empat perkara  tersebut, niscaya ALLAH mengharamkan neraka baginya dan niscaya Dia memeliharanya dari setan, yaitu seseorang yang dapat menguasai dirinya ketika berkeinginan, ketika merasa takut, ketika berselera, ketika marah [HR. Al Hakim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siapa diantara kalian melihat ke mungkaran maka dia hendaklah mencegah kemungkaran itu dengan tangannya yaitu kuasanya. Jika tidak mampu hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman [HR. Bukhari, Muslim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Doa bermanfaat untuk melenyapkan musibah yang sedang menimpa dan untuk menolak musibah yang akan datang karena itu kalian hamba-hamba ALLAH, berdoalah! [HR. Al Hakim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah  engkau  berdebat dengan   saudaramu dan jangan pula bergurau yang menyakitkannya, serta janganlah engkau menjanjikan kepadanya suatu janji lalu engkau mengingkarinya [HR. Tirmidzi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Semoga ALLAH merahmati seorang hamba yang mengucapkan kebaikan lalu ia mendapatkan keuntungan, atau ia diam tidak mengatakan hal yang buruk lalu ia selamat [HR. Ibnu Mubarak]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Amalan seseorang tidak akan dapat menyelamatkan diri masing-masing. Seseorang bertanya: `Walaupun engkau wahai Rasulullah?`. Beliau menjawab: `Ya!, Walaupun aku tetapi ALLAH telah meliputi rahmat-NYA kepada-ku. Tetapi kalian berusahalah sungguh-sungguh!` [HR. Bukhari, Muslim]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Bertakwalah kepada ALLAH dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya, dan berakhlaklah terhadap manusia dengan akhlak yang baik [HR. Thabrani]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:: Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara lainnya: Hidupmu sebelum matimu, Sehatmu sebelum sakitmu, Senggangmu sebelum sibukmu, Mudamu sebelum tuamu, Kayamu sebelum miskinmu [HR. Baihaqi]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Perbaikilah urusan dunia kalian dan beramallah untuk akhirat kalian, seakan-akan kalian akan mati besok [HR. Ad Dailami]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Bersegeralah kalian mencari ilmu (agama), karena satu hadits yang dikemukakan oleh orang yang jujur merupakan hal yang lebih baik daripada dunia, emas serta perak yang ada didalamnya [HR. Ar Rafi’i]

Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Diriwayatkan oleh Imran bin Husain ra berkata: Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui  penghuni Surga dan penghuni Neraka?. Rasulullah Saw bersabda: `Ya`. Sahabat bertanya lagi: `Kalau begitu untuk apa amalan dilakukan ?`. Rasulullah Saw menjawab: `Segala-galanya akan dipermudahkan mengikuti kepada untuk apakah ia dijadikan` [HR. Bukhari, Muslim]

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Senin, 08 September 2014

Rambu-rambu Berdzikir

   بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Dalam berdzikir kita harus memperhatiakn rambu-rambunya, agar tidak menyalahi sunnah Rasulullah. Diantara rambu-rambu dalam berdzikir yang harus kita patuhi adalah:
  1. Berdzikirlah dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar. Yakni berdzikir dengan niat utama sebagai wujud ibadah kepada Allah, dan bukti keimanan tauhid kepada-Nya. Maka hindarilah, karenanya, tujuan-tujuan yang tidak syar’i dalam berdzikir. Seperti misalnya berdzikir dengan niat dan tujuan untuk mendapatkan kesaktian, kekebalan, diantara motivasi-motivasi dzikir yang aneh-aneh dan tidak syar’i!
  2. Utamakanlah berdzikir dengan dzikir-dzikir yang ma’tsur. (yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam). Disamping tentu juga dengan lafadz-lafadz dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an Al-Karim.
  3. Bersikaplah selektif dan hati-hati terhadap paket-paket himpunan dzikir yang tidak ma’tsur. Utamakan selalu merujuk pada kitab-kitab panduan dan himpunan dzikir yang jelas-jelas bersandar dan bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Misalnya salah satu kitab klasik standar terlengkap dalam hal himpunan dzikir adalah kitab ”Al-Adzkar” oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah. Disamping kitab-kitab kontemporer maupun klasik lainnya tentang himpunan dzikir-dzikir ma’tsur yang juga sangat banyak sekali.
  4. Berdzikirlah dengan kalimat-kalimat dzikir yang lengkap dan sempurna, yang mengandung makna tauhid, dan bahkan yang secara eksplisit menegaskan tauhid yang murni itu. Karena tujuan dan maksud utama dari dzikrullah adalah menyebut Allah dalam konteks makna pengagungan, pujaan, pujian, pengesaan, dan semaknanya. Sehingga esensi dari dzikrullah sebenarnya adalah pengulang-ulangan deklarasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin. Oleh karena itu, seluruh contoh lafadz dzikir Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, adalah dengan kalimat-kalimat lengkap yang memberikan dan menunjukkan makna tauhid itu, secara eksplisit, jelas dan tegas. Seperti: Subhanallah (Maha Suci Allah); Al-hamdu lillah (Segala puji bagi Allah); La ilaha illah (Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah), Allahu Akbar (Allah Maha Besar); Dan lain-lain.
  5. Janganlah mendominankan berdzikir misalnya dengan dzikir-dzikir yang hanya menyebut dan melafalkan nama saja apa adanya (al-ismul mufrad) diantara nama-nama Allah, misalnya berdzikir dengan hanya mengucapkan Lafzhul Jalalah ”Allah” saja yang diulang-ulang! Karena disamping tidak adanya contoh dzikir seperti itu diantara dzikir-dzikir ma’tsur yang sangat banyak sekali dari tuntunan Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Juga karena dzikir dengan hanya menyebut nama ”Allah” begitu saja, belum memberikan makna iman dan tauhid secara jelas dan definitif, yang merupakan esensi dan tujuan dari ibadah dzikrullah. Melainkan hal itu masih tergantung dan terpulang pada niat dan maksud hati orang yang melafalkannya, apakah tujuannya menyebut nama Allah itu dalam konteks iman dan tauhid ataukah tidak? Jadi sifatnya sangat relatif sekali. Oleh karena itu, kaum musyrik Quraisy dulu yang sudah sangat terbiasa dan akrab sekali serta fasih sekali dalam mengucapkan Asma Allah, tetap lebih memilih perang daripada harus melafalkan dzikir tauhid ”La Ilaha illallah”, meskipun hanya sekali saja! Ini bukan berarti tidak boleh berdzikir dengan dzikir lafdzul jalalah ”AllahAllah…”! Sama sekali bukan demikian maksudnya! Namun yang ingin diingatkan disini adalah, jangan sampai itu yang justru lebih diutamakan, diprioritaskan dan didominankan dalam berdzikir! Disamping juga untuk menegaskan tentang jauhnya jarak dan perbedaan, baik secara nilai maupun pahala juga dampak, antara berdzikir dengan lafdzul jalalah ”AllahAllah…” saja, dan berdzikir dengan kalimat-kalimat dzikir yang lengkap dan sempurna seperti tasbih ”Subhanallah”, tahmid ”Al-hamdu lillah”, takbir ”Allahu Akbar”, apalagi tahlil ”La ilaha illallah”, dan seterusnya!
  6. Sebaiknya sebisa mungkin dihindari segala bentuk pengkhususan dalam berdzikir, kecuali jika ada dasar dan landasan riwayat yang shahih atau alasan logis yang bisa dibenarkan. Dan hal itu baik berupa pengkhususan lafal-lafal dzikir tertentu, bilangan-bilangan tertentu, keyakinan akan fadhilah-fadhilah tertentu, waktu-waktu tertentu, maupun format serta tata cara tertentu dan semacamnya. Namun tentu tidak dinafikan potensi adanya khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam hal ini, yang tetap harus disikapi dengan hikmah, tepat dan proporsional berdasarkan kaedah-kaedah fiqhul-ikhtilaf (fiqih penyikapan terhadap perbedaan khilafiyah).
  7. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,”Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan lain-lain). Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir yang ideal dan sempurna adalah yang dilafalkan dengan lisan, tentu disamping tetap harus bersumber dari hati. Oleh karena itu sangat tidak benar pendapat yang mengatakan misalnya bahwa, puncak dzikrullah (dengan arti menyebut Nama Allah), adalah ketika yang “menyebut” itu hanya tinggal hati saja, seiring tarikan nafas dan sebanyak detakan jantung. Serta ketika sudah tidak ada lagi keterlibatan pengucapan lisan (?!) disana. Pendapat ini tentu saja sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena itu justru kebalikan dan bertentangan langsung dengan petuntuk Al-Qur’an dan tuntunan serta contoh sunnah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dimana kaidahnya bahwa, dzikir yang sempurna itu adalah yang tetap menggabungkan antara dzikir (ingatan dan kesadaran) hati dan dzikir (penyebutan dan pengucapan) lisan sekaligus!
Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.

Rabu, 03 September 2014

Majelis Dzikir

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassalam, beliau bersabda : Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit. Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi: Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan. Beliau melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab: Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka. (Shahih Muslim No.4854)

Minggu, 31 Agustus 2014

Mencakup Ketaatan

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ قَالُوْا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: اَلذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ


"al-Mufarridûn telah mendahului.” Para sahabat berkata, “Siapa al-Mufarridûn wahai Rasûlullâh?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allâh.”

Dari hadits di atas, terlihatlah makna al-mufarridun, yaitu orang yang terus-menerus berdzikir kepada Allâh dan menyukainya. Orang yang banyak berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla , mengikuti contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hatinya ingat kepada Allâh Azza wa Jalla dan batas-batas-Nya, maka dia termasuk orang yang bertakwa. Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu telah menjelaskan makna takwa ini pada saat beliau menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allâh dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya…” [Ali ‘Imrân/3:102]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى ، وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى ، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَرَ


Hendaklah Allâh itu ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri.

Contoh teladan kita adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ


Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingat Allâh dalam setiap keadaannya.

Salah seorang dari tujuh orang yang dinaungi Allâh Azza wa Jalla dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya diantaranya ialah orang yang berdzikir kepada Allâh di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya.

Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

... وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ...


“… Dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allâh di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya …”

Hati orang-orang yang mencintai Allâh Azza wa Jalla tidak akan tenang kecuali dengan dzikir kepada-Nya dan jiwa orang-orang yang rindu kepada-Nya tidak tenang kecuali ingin berjumpa dengan-Nya. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya dalam setiap keadaan dan memuji orang-orang yang berdzikir. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman 

Alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba alnnaari

Artinya, "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari adzab neraka.’” (Ali ‘Imrân/3:191)

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu 'aklam bishshowab...

Batasan Banyaknya

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)
 
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdzikir (ingat) kepadaNya. Dalam ayat Al-Qur’an dan sabda Rasul kita temui perintah-perintah yang sangat banyak tentang hal ini. Pada dasarnya, perintah untuk berdzikir bersifat umum, tanpa pembatasan jumlah tertentu dan tidak terikat juga oleh keadaan-keadaan tertentu.
 

Di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 191, Allah SWT ber­firman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah (ber­dzikir) sambil berdiri, duduk, dan ber­baring.”. Begitu juga dengan firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang arti­nya, “Hai orang-orang yang beriman, ber­dzikirlah dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dan bertas­bih­lah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”. Sedangkan dalam surah Al-Jumu‘ah Allah SWT berfirman yang artinya, “Ber­dzikirlah kamu kepada Allah dengan dzi­kir yang banyak, agar kalian mendapat­kan keberuntungan.”
Selanjutnya di dalam hadits riwayat Mus­lim diterangkan sebagai berikut, “Ra­sulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa se­tiap selesai shalat membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali, lalu supa­ya cukup seratus ia membaca Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarika lah, lahul-mul­ku walahul-hamdu wahuwa `ala kulli syay-in qadîr, niscaya dihapuskan dosa-dosa­nya walaupun sebanyak buih di lautan’.”
Dari uraian hadits itu dapatlah di­ketahui adanya penetapan waktu dan jumlah dzikir, yakni usai shalat membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alham­dulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, dan dilengkapi menjadi 100 dengan kalimat di atas.
- See more at: http://nurulmakrifat.blogspot.com/2014/03/berdzikir-menggunakan-tasbih.html#sthash.CK1hJDUI.dpuf
Di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 191, Allah subhanahu wa ta'ala ber­firman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah (ber­dzikir) sambil berdiri, duduk, dan ber­baring.”. Begitu juga dengan firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang arti­nya, “Hai orang-orang yang beriman, ber­dzikirlah dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dan bertas­bih­lah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”Sedangkan dalam surah Al-Jumu‘ah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya, “Ber­dzikirlah kamu kepada Allah dengan dzi­kir yang banyak, agar kalian mendapat­kan keberuntungan.”

Selanjutnya di dalam hadits riwayat Mus­lim diterangkan sebagai berikut, “Ra­sulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa se­tiap selesai shalat membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali, lalu supa­ya cukup seratus ia membaca Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarika lah, lahul-mul­ku walahul-hamdu wahuwa `ala kulli syay-in qadîr, niscaya dihapuskan dosa-dosa­nya walaupun sebanyak buih di lautan’.”
 
Dan untuk mengetahuinya jumlah bilangan dalam dzikir, sebagian kaum muslimin menggunakan tasbih dalam dzikir mereka tersebut. Namun hal ini di pandang oleh sebagian golongan sebagai perbuatan munkar/buruk dan bid’ah/sesat. Apakah memang benar demikian ?

Hadits diriwayatkan dari Umm al-Mukminin, salah seorang istri Rasulullah, bernama Shafiyyah. Bahwa beliau (Shafiyyah) berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، فَقَالَ: لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذَا؟ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ؟ فَقَالَتْ: عَلِّمْنِيْ، فَقَالَ: قُوْلِيْ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ مِنْ شَىْءٍ (رواه الترمذي والحاكم والطبرانيّ وغيرهم وحسّنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار)


“Suatu ketika Rasulullah menemuiku dan ketika itu ada di hadapanku empat ribu biji-bijian yang aku gunakan untuk berdzikir. Lalu Rasulullah berkata: Kamu telah bertasbih dengan biji-bijian ini?! Maukah kamu aku ajari yang lebih banyak dari ini? Shafiyyah menjawab: Iya, ajarkanlah kepadaku. Lalu Rasulullah bersabda: “Bacalah: “Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Min Sya’i” (HR. at-Tirmidzi, al-Hakim, ath-Thabarani dan lainnya, dan dihasankan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Nata-ij al-Afkar Fi Takhrij al-Adzkar)

Banyak di antara kita yang berdzikir de­ngan tasbih, atau dengan alat-alat peng­hitung yang lain, Tasbih, yang da­lam bahasa Arabnya disebut subhah, adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung banyaknya jumlah dzikir yang diucapkan oleh seseorang, baik dzikir dengan lidah maupun dzikir dengan hati.
Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyuruh para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau. Para imam ahli hadits juga me­riwayatkan hadits dari seorang wanita Muhajirin yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis. Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, ka­rena kelak jari-jari akan ditanya dan akan diminta berbicara.”
- See more at: http://nurulmakrifat.blogspot.com/2014/03/berdzikir-menggunakan-tasbih.html#sthash.CK1hJDUI.dpuf


Banyak di antara kita yang berdzikir de­ngan tasbih, atau dengan alat-alat peng­hitung yang lain, Tasbih, yang da­lam bahasa Arabnya disebut subhah, adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung banyaknya jumlah dzikir yang diucapkan oleh seseorang, baik dzikir dengan lidah maupun dzikir dengan hati.

Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyuruh para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau. Para imam ahli hadits juga me­riwayatkan hadits dari seorang wanita Muhajirin yang mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis. Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, ka­rena kelak jari-jari akan ditanya dan akan diminta berbicara.”

Demikian semoga ada manfaatnya. Wallahu 'aklam bishowwab...



 
Blogger Templates