Tampilkan postingan dengan label Kursi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kursi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2014

Ayat Kursi 19


 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Merupakan salah satu ayat yang padanya terdapat Al-Ismul A‘zhom.
  
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah ra. dari Nabi sholallahu 'alihi wasallam, beliau bersabda:

“Sesungguhnya Ismullohil A‘zhom terdapat dalam 3 surah dalam Al-Qur’an, yakni dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaahaa.” Aku (Al-Qasim, rawi) pun lalu mencarinya dan ternyata aku menemukannya yang dalam surah Al-Baqarah ada di Ayat Kursi yakni: Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum; lalu di surah Ali Imran ada di ayat: Alif Laam Miim. Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum; lalu di surah Thaahaa ada di ayat Wa ‘anatil wujuuhu lil hayyil qoyyuum. (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak [1/686/1866])

Lantas apa yang dimaksud dengan Al-Ismul A‘zhom itu? Al-Ismul A‘zhom atau Ismullohil A‘zhom berarti nama-nama Allah yang paling agung. Termasuk di antaranya adalah:
  • Al-Hayyu (Dzat Yang Maha hidup, Dzat Yang Hidup kekal) dan Al-Qayyum (Dzat Yang Maha Mengurus makhluk-Nya). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits riwayat Hakim di atas. 
  • Ar-Rohman (Dzat Yang Maha Pemurah) dan Ar-Rohim (Dzat Yang Maha Penyayang). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid bahwasanya Nabi sholallahu 'alihi wasallam bersabda: “Ismulloohil A‘zhom terdapat dalam kedua ayat ini, yakni (QS. Al-Baqarah [2] ayat 163): Wa ilaahukum ilaahuw waahid, laa ilaaha illaa huwar rohmaanur rohiim dan di awal surah Ali Imran yakni Alif Laam Miim. Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum.” (HR. Tirmidzi dalam Sunannya [3400]; Ibnu Majah dalam Sunannya [3845]; Abu Dawud dalam Sunannya [1278]; dan Ahmad dalam Musnadnya [26329]. Tirmidzi berkata: “Ini Hadits hasan shahih.”). Hadits ini menjelaskan bahwa Ar-Rohman dan Ar-Rohim itu termasuk  Al-Ismul A‘zhom, di samping Al-Hayyu dan Al-Qoyyuum. 
  • Al-Ahad (Dzat Yang Maha Esa) dan As-Shomad (Dzat Tempat Bergantung segala makhluk-Nya). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Buraidah bin Hashib yang mana ia berkata: “Nabi saw. pernah mendengar seseorang yang berucap dalam do‘anya: Alloohumma innii as-aluka bi annaka antalloohul ahadus shomad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul lahuu kufuwan ahad.... (Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu atas dasar bahwa Engkaulah Allah, Al-Ahad, As-Shomad, yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan, dan Dzat yang tiada siapapun yang setara dengan-Nya....). Yang mana Rasulullah saw. lalu bersabda: ‘Sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan menggunakan nama-Nya yang paling agung (Al-Ismul A‘zhom) yang jika seseorang meminta kepada-Nya dengan nama tersebut, pasti akan Dia beri dan jika seseorang berdo‘a kepada-Nya dengan nama tersebut pasti akan Dia ijabah.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya [3847] dan Tirmidzi dalam Sunannya [3397]) Mengenai Hadits yang diriwayatkannya dalam Sunannya [3397], Tirmidzi berkata: “Ini Hadits hasan gharib.” Hadits ini dikeluarkan juga oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Hakim. Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat keshahihan Bukhari-Muslim.” Sementara Al-Mundziri berkata dalam Talkhisus Sunan: “Syaikh kita Al-Hafizh Abu Hasan Al-Maqdisi berkata: ‘Dalam isnad Hadits ini tidak ada rawi yang tertuduh (tidak baik) dan aku tidak mengetahui dalam bab ini adanya Hadits lain yang lebih baik sanadnya daripada Hadits ini....” (Baca: Tuhfatul Ahwadzi syarah Sunan Tirmidzi [3397]) 
  • Al-Mannan (Dzat Yang Maha Pemberi); Badi‘us samawati wal ardh (Sang Pencipta langit dan bumi); dan Dzul jalali wal ikrom (Sang Pemilik keagungan dan kemuliaan). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik yang mana ia berkata: “Nabi saw. pernah mendengar seseorang yang berucap dalam do‘anya: Alloohumma innii as-aluka bi anna lakal hamda, laa ilaaha illaa anta wahdak, laa syariika lak, al-mannaan, badii‘us samaawaati wal ardh, dzul jalaali wal ikroom.... (Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu atas dasar bahwa segala puji hanyalah milik-Mu; tiada ilah [sesembahan] selain Engkau semata; tiada sekutu bagi-Mu; Engkaulah Al-Mannan, Badi‘us samawati wal ardh; dan Dzul jalali wal ikrom ....). Yang mana beliau lalu bersabda mengenainya: ‘Sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan menggunakan nama-Nya yang paling agung (Al-Ismul A‘zhom) yang jika seseorang meminta kepada-Nya dengan nama tersebut, pasti akan Dia beri dan jika seseorang berdo‘a kepada-Nya dengan nama tersebut pasti akan Dia ijabah.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya [3848]; Tirmidzi dalam Sunannya [3467]; Abu Dawud dalam Sunannya [1277]; dan Ahmad dalam Musnadnya [11760])
Hadits-hadits yang disebutkan di atas menjelaskan bahwa Allah memiliki nama-nama yang paling agung (Al-Ismul A‘zhom) yang jika seseorang berdo‘a kepada-Nya dengannya, Dia akan mengijabahnya. Ada sebagian ahlul ilmi yang tidak sepakat mengenai hal ini; namun pendapat yang rajih adalah pendapat yang menyatakan adanya Al-Ismul A‘zhom ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fat-hul Bari: “Ada sejumlah ahlul ilmi semisal Abu Ja‘far At-Thabari, Abul Hasan Al-Asy‘ari, Abu Hatim bin Hibban, dan Abu Bakar Al-Baqillani, yang mengingkari adanya Al-Ismul A‘zhom ini. Mereka semua mengatakan: ‘Tidak boleh menganggap lebih agung sebagian nama Allah atas nama Allah lainnya.’ Mereka mena’wilkan kata-kata “a‘zhom” yang menjelaskan tentang nama-nama Allah tersebut dengan makna “‘azhiim” (yang berarti “agung” bukan “paling agung” –pen.); sebab semua nama Allah itu bersifat agung.

Ibnu Hibban berkata: ‘Kata-kata “paling agung” tersebut maksudnya adalah menyangkut besarnya pahala yang diraih oleh orang yang berdo‘a dengan mengunakan Al-Ismul A‘zhom itu....’ Ulama’ lain ada yang berkata: ‘Allah menyimpan ilmu tentang Al-Ismul A‘zhom dan tidak memberitahukannya kepada siapapun mengenainya.’

Sementara ulama’ lainnya lagi menyatakan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu ada batasannya tertentu, dan mereka berbeda pendapat mengenainya. Mengenai perbedaan pendapat tentang batasan Al-Ismul A‘zhom ini, sejauh yang aku (Ibnu Hajar) ketahui ada sebanyak 14 macam pendapat.

Di antaranya, ada yang mengatakan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu hanyalah lafazh “Alloh”; sebab lafazh “Alloh” itu merupakan nama yang tidak bisa diperuntukkan bagi selain Allah. Lagi pula, lafazh “Alloh” itu merupakan pangkal dari semua Al-Asma’ul Husna dan semua Al-Asma’ul Husna itu disandarkan kepadanya.

Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu adalah Ar-Rohman, Ar-Rohim, Al-Hayyu, dan Al-Qoyyum. Hal ini sebagaimana yang dikeluarkan Tirmidzi dari Hadits Asma’ binti Yazid.

Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu adalah Al-Hayyu dan Al-Qoyyum. Hal ini sebagaimana yang dikeluarkan Ibnu Majah dari Hadits Abu Umamah yang menyebutkan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu ada di 3 surah yakni surah Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaahaa. Yang mana Al-Qasim –rawi dari Abu Umamah– berkata: ‘Aku lalu mencarinya dan akhirnya aku tahu bahwa yang dimaksud adalah Al-Hayyu dan Al-Qoyyum.’ Hal ini diperkuat oleh Al-Fakhrur Razi, dan dia berhujjah bahwa keduanya (Al-Hayyu dan Al-Qoyyum) menjelaskan sebagian dari sifat agung rububiyyah Allah yang tidak dijelaskan oleh nama lain selain keduanya.

Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu adalah Al-Hannan, Al-Mannan, Badi‘us samawati wal ardh, Dzul jalali wal ikrom, Al-Hayyu, dan Al-Qoyyum. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Anas yang diriwayatkan Ahmad dan Hakim yang asalnya ada pada riwayat Abu Dawud dan Nasa’i yang dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

Dan ada juga yang mengatakan bahwa Al-Ismul A‘zhom itu adalah Alloh, Al-Ahad, dan  As-Shomad. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam lafazh Hadits: Allohu laa ilaaha illaa huwal ahadus shomad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, yang dikeluarkan Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim dari Buraidah.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata lagi: “Yang disebutkan terakhir inilah yang lebih rajih dari segi sanad bila dibanding riwayat-riwayat lain yang menjelaskan mengenai hal ini.” (Baca: Tuhfatul Ahwadzi syarah Sunan Tirmidzi [3400])

Demikian semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 18


 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Merupakan salah satu ayat yang jika dibacakan di rumah yang di dalamnya ada setan, maka setan tersebut akan “ngacir” keluar. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi sholallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

“Surah Al-Baqarah itu di dalamnya terdapat ayat yang merupakan ayat Al-Qur’an paling mulia. Tidaklah ayat tersebut dibacakan di rumah yang di dalamnya ada setan, melainkan setan tersebut akan ngacir keluar darinya. Ayat tersebut adalah Ayat Kursi.” 

(HR. Baihaqi dalam Syu‘abul Iman [2/457/2389] dan Hakim dalam Mustasdrak [1/748/2059]. Hakim berkata: “Ini Hadits shahihul isnad.”)

Dijelaskan pula dalam Hadits semakna yang juga dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi saw. bersabda : “Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki puncak; dan puncak Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah. Di dalam surah Al-Baqarah ada 1 ayat yang merupakan ayat paling mulia di antara semua ayat Al-Qur’an lainnya; dialah Ayat Kursi. Tidaklah ayat tersebut dibacakan di rumah yang di dalamnya ada setan, melainkan setan tersebut akan ngacir keluar (darinya). ” (HR. Abdurrazza)

 Demikian semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 17


 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Tulisan ini membahas tentang fadhilah dan kedudukan ayat Kursi di dalam Al Quran, kapan ayat kursi dibaca, kandungan makna dalam ayat Kursi, keutamaan dan makna tauhid, dan lainnya. Merupakan salah satu ayat yang jika dibacakan di rumah, maka rumah tersebut tidak akan dimasuki setan.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits berikut:

Pertama

Hadits yang diriwayatkan dari As-Sya‘bi ia berkata: “Abdullah bin Mas‘ud berkata: ‘Barang siapa membaca 10 ayat dari surah Al-Baqarah di dalam rumah, maka setan tidak akan memasuki rumah itu di malam harinya hingga tiba pagi hari. Kesepuluh ayat tersebut adalah 4 ayat pertama darinya; Ayat Kursi; 2 ayat sesudah Ayat Kursi; dan 3 ayat terakhir dari surah Al-Baqarah.’” (HR. Thabrani dalam Al-Mu‘jamul Kabir [9/137/8673]). Al-Haitsami berkata dalam Majma‘uz Zawa’id [10/118]: “Hadits ini diriwayatkan Thabrani dengan rijal shahih, hanya saja As-Sya‘bi tidak mendengarnya langsung dari Ibnu Mas‘ud.”

Kedua
Hadits yang diriwayatkan dari Buraidah bin Hashib Al-Aslami ia berkata: “Aku mendengar kabar bahwa Mu‘adz bin Jabal pernah menangkap setan di zaman Rasulullah saw.. Aku pun lalu mendatanginya dan bertanya kepadanya: ‘Aku mendengar kabar bahwa engkau pernah menangkap setan di zaman Rasulullah saw.. Benarkah?’

Dia menjawab: ‘Ya, benar. Rasulullah saw. pernah mengumpulkan kurma zakat padaku. Aku lalu menyimpannya di salah satu kamarku. Selanjutnya, di setiap harinya aku mendapati kurma tersebut bekurang. Aku lalu melaporkan hal ini kepada Rasulullah saw.. Beliau berkata kepadaku: ‘Itu adalah kelakuan setan. Silahkan engkau mengintainya.’ Aku pun lalu melakukan pengintaian di satu malam. Ketika sebagian waktu malam telah berlalu, tiba-tiba muncul sesosok makhluk seperti gajah. Ketika sudah mendekati pintu, makhluk tersebut lalu masuk melalui celah pintu, lalu mendekati kumpulan kurma lalu memakannya.

Melihat hal itu, aku lalu mengencangkan kainku hingga separoh badan dan selanjunya aku berucap: ‘Asyhadu allaa ilaaha illallooh, wa anna muhammadan ‘abduhuu wa rosuuluh.’ Lantas kukatakan kepadanya: ‘Wahai musuh Allah, kenapa engkau mendekati kurma zakat lalu memakannya? Sementara mereka (orang-orang miskin) lebih berhak menerimanya daripada kamu! Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah saw. agar beliau membeberkan aibmu.’

Mendengar ancamanku, dia lalu berjanji untuk tidak akan mengulangi perbuatannya. Di pagi harinya ketika aku menghadap Rasulullah saw., beliau bertanya: ‘Apa yang diperbuat tawananmu.’ Aku jawab: ‘Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.’ Beliau berkata: ‘Sungguh dia bakal mengulanginya. Karenanya, silahkan kamu intai dia.’ Di malam kedua, aku pun lalu melakukan pengintaian. Ternyata benar, dia berbuat seperti itu lagi sehingga aku pun memperlakukannya sebagaimana kemarin. Ketika dia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, aku lalu melepaskannya.

Ketika di pagi harinya aku menghadap Rasulullah saw. untuk memberitahukan hal tersebut, tiba-tiba seorang penyeru beliau berkata: ‘Di mana Mu‘adz?’ Selanjutnya, Nabi bertanya kepadaku: ‘Wahai Mu‘adz, apa yang diperbuat tawananmu.’ Aku pun lalu memberitahukannya kepada beliau. Beliau bersabda: ‘Sungguh dia bakal mengulangi perbuatannya. Karenanya, silahkan kamu intai dia.’ Di malam ketiga, aku pun lalu melakukan pengintaian. Ternyata benar, dia berbuat seperti itu lagi sehingga aku pun memperlakukannya sebagaimana kemarin. Kali ini aku katakan kepadanya: ‘Wahai musuh Allah, kamu telah berjanji 2 kali kepadaku (namun kamu mengkhianatinya). Pada kali ketiga ini aku benar-benar akan membawamu ke hadapan Rasulullah saw. agar beliau membeberkan aibmu.

Dia lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku ini adalah setan yang punya tanggungan keluarga. Kali ini aku tidak mendatangimu kecuali dengan memberitahukan 2 ayat. Seandainya engkau membaca salah satunya saja, niscaya aku tidak berani datang kemari. Sesungguhnya kami berada di kota kalian ini hingga diutusnya teman kalian (maksudnya: Nabi saw. –pen.). Ketika telah diturunkan 2 macam ayat kepadanya, engkau bisa membuat kami (setan) lari dari kota ini dengannya. Kami benar-benar terkena pengaruh 2 macam ayat tersebut, yang mana tidaklah keduanya dibacakan di dalam rumah, melainkan setan tidak akan berani memasukinya. (Dia mengatakan hal ini sampai 3 kali).’ (Dia berkata lagi:)

‘Jika engkau mau melepaskan aku, aku akan memberitahukan kedua macam ayat tersebut kepadamu.’ Aku (Mu‘adz) berkata: ‘Boleh, kalau begitu.’ Dia lalu berkata: ‘Yaitu Ayat Kursi dan ayat terkahir dari surah Al-Baqarah yang dimulai dari ayat: Aamanar rosuulu bimaa ungzila.... hingga akhir surah.’ Aku (Mu‘adz) pun lalu melepaskannya. Di pagi harinya ketika aku hendak memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah saw., tiba-tiba seorang penyeru beliau berkata: ‘Mana Mu‘adz bin Jabal?’ Ketika aku sudah masuk menemui beliau saw., beliau bertanya: ‘Apa yang diperbuat tawananmu?’ Aku jawab: ‘Dia berjanji kepadaku untuk tidak mengulangi perbuatannya (namun dia berdusta).’ Aku pun lalu memberitahukan kepada beliau tentang apa yang dikatakan setan tersebut. Rasulullah saw. lantas bersabda kepadaku: ‘Si jelek itu telah berkata benar (kali ini), namun dia itu bertabiat pendusta (pada kali lainnya).’” Muadz berkata lagi: “Sesudah itu aku pun lalu membacakan kedua macam ayat itu pada kurma zakat tersebut, dan aku tidak lagi mendapatinya berkurang.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu‘jamul Kabir [20/51/89])

Ketiga 
Dalil lain yang berisi anjuran untuk membacakan Ayat Kursi di dalam rumah agar rumah kita tidak dimasuki setan, adalah Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umair ia berkata: “Adalah Abdurrahman bin Auf jika memasuki rumahnya, dia membacakan Ayat Kursi di semua sudut rumahnya.” (HR. Abu Ya‘la dalam Musnadnya [13/165/7207] dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [6/127/30026])

Al-Haitsami berkata dalam Majma‘uz Zawa’id [10/128]: “Hadits ini diriwayatkan Abu Ya‘la dengan rijal tsiqah, hanya saja Abdullah bin Ubaid bin Umair tidak mendengarnya langsung dari Ibnu Auf.”

Demikian semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 16

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Orang yang membacanya tidak akan didekati setan; begitu pula obyek yang padanya dibacakan Ayat Kursi.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits berikut:

Pertama 
Hadits yang diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari ra.:
Bahwasanya dia (Abu Ayyub) memiliki rak di luar rumah yang digunakan untuk menyimpan kurma. Satu ketika datanglah sesosok jin lalu mengambil (mencuri) sebagian dari kurma tersebut. Selanjutnya dia melaporkan kasus tersebut kepada Nabi saw.. Nabi saw. berkata: “Silahkan pulang, lalu jika engkau melihatnya datang kembali, katakanlah kepadanya: ‘Bismillaah, sambutlah seruan Rasulullah saw..’” Abu Ayyub lalu berhasil menangkapnya, namun sosok jin tersebut lalu bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatannya, sehingga Abu Ayyub pun melepaskannya. Ketika menghadap Nabi saw. kembali, Nabi lalu bertanya: “Bagaimana dengan tawananmu?” Abu Ayyub menjawab: “Dia bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatannya.” Nabi saw. berkata: “Dia itu dusta dan pasti akan mengulangi kedustaannya.” Selanjutnya, Abu Ayyub berhasil menangkapnya lagi lalu berkata kepada sosok jin tersebut: “Aku tak akan melepaskanmu hingga membawamu ke hadapan Nabi saw..” Sosok jin itu lalu berkata: “Aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu, yakni tentang Ayat Kursi. Bacalah olehmu ayat tersebut di rumahmu, niscaya setan dan gangguan lain tak akan mendekatimu.” Ketika Abu Ayyub menghadap Nabi saw. kembali, Nabi bertanya: “Bagaimana dengan tawananmu?” Setelah Abu Ayyub menceritakan apa yang dikatakan sosok jin tersebut, Nabi saw. bersabda: “Kali ini dia berkata benar, meski dia itu biasanya bertabiat pendusta.” (HR. Tirmidzi dalam Sunannya [2805], Hadits hasan gharib)

Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa sosok jin tersebut berkata:
“Tolong lepaskan aku dan sebagai kompensasinya aku akan memberitahumu tentang kalimat dzikir yang jika engkau membacanya, niscaya sesuatu (gangguan setan) tidak akan mendekatimu, yakni Ayat Kursi.” Ketika Abu Ayyub menghadap Nabi saw. dan memberitahukan hal tersebut, Nabi saw. lalu bersabda: “Kali ini dia berkata benar, meski dia itu biasanya bertabiat pendusta.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya [22488])

Dalam riwayat lainnya lagi disebutkan bahwa sosok jin tersebut berkata:
“Tolong lepaskan aku dan sebagai kompensasinya aku akan memberitahumu tentang satu ayat dari Kitabullah yang jika engkau membacakannya pada harta atau anak, maka setan tidak akan mendekati (harta atau anak)mu buat selamanya.” Aku (Abu Ayyub) berkata: “Ayat mana yang dimaksud?” Sosok jin tersebut menjawab: “Aku tidak sanggup membacanya. Ayat tersebut adalah Ayat Kursi.” (At-Targhib Wat Tarhib [1/237/899])

Kedua
     
Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Ubay bin Ka‘b bahwa ayahnya (Ubay bin Ka‘b) :
Menceritakan kepadanya bahwa keluarga mereka memiliki kurma yang disimpan di tempat pengeringannya, yang mana setelah diamati ternyata kurma tersebut mengalami pengurangan dari kondisi semula. Dia (Ubay bin Ka‘b) pun lalu melakukan ronda di satu malam. Syahdan, ternyata di malam itu datanglah sesosok hewan yang menyerupai remaja yang sudah berusia baligh. Ubay berkisah: “Ketika aku berucap salam, ternyata dia menjawabnya. Aku lantas bertanya: ‘Kamu ini termasuk golongan jin atau manusia?’ Dia menjawab: ‘Jin.’ Aku berkata: ‘Coba ulurkan tanganmu.’

Ketika kulihat tangannya seperti tangan anjing dan bulunya juga seperti bulu anjing, aku lalu berkata: ‘Oh, beginilah ternyata rupa fisik jin itu.’ Dia lalu berkata: ‘Sungguh kalangan bangsa jin tahu bahwa di antara mereka tidak ada jin yang rupa fisiknya lebih buruk dari aku.’ Aku bertanya: ‘Lantas apa yang mendorongmu berbuat sebagaimana yang kau perbuat ini?’ Ia menjawab: ‘Aku mendengar bahwa engkau adalah seorang yang suka bersedekah. Karenanya, aku ingin mendapat bagian dari bahan pangan yang engkau miliki.’ Aku (Ubay) lalu bertanya kepadanya:

‘Apa yang bisa menjadi sebab dilindunginya kami dari gangguan kalian (bangsa jin)?’ Dia menjawab: ‘Ayat ini, Ayat Kursi.’ Akupun lalu membiarkan jin tersebut.” Ibnu Ubay bin Ka‘b berkata: “Di pagi harinya ayahku menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan hal tersebut kepada beliau. Rasulullah saw. bersabda: ‘Si buruk rupa itu telah berkata benar.’” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya [3/63-64/784] dan Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra [6/239/10796]. Lafazh yang ditulis di sini adalah lafazh Ibnu Hibban)

Menurut Abu Hatim, nama Ibnu Ubay bin Ka‘b (putra Ubay bin Ka‘b) tersebut adalah Thufail bin Ubay bin Ka‘ab.

Maksud kata-kata “Si buruk rupa itu telah berkata benar” adalah apa yang dikatakan jin atau setan bahwa dengan membaca Ayat Kursi, maka seseorang akan terjaga dari gangguan mereka adalah benar adanya; sebab hal tersebut dibenarkan oleh Nabi saw.. Andaikata Nabi saw. tidak membenarkannya, maka omongan jin atau setan yang seperti itu tentu tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang benar; sebab setan itu memiliki tabiat suka berdusta sebagaimana dijelaskan dalam Hadits lainnya. 

Dalam riwayat Hakim disebutkan adanya lafazh:
“.... Jika engkau membacanya di pagi hari, maka engkau akan terjaga dari gangguan kami (setan atau jin) hingga tiba sore hari. Dan jika engkau membacanya di sore hari maka engkau akan terjaga dari gangguan kami (setan atau jin) hingga tiba pagi hari....” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak [1/749/2064], dia berkata: “Ini Hadits shahihul isnad.”)

Ketiga

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. :
Bahwa dia pernah mendapat tugas menjaga barang (bahan pangan) zakat. Ternyata dia lalu melihat ada bekas telapak tangan, sepertinya pelakunya telah mengambil (mencuri) sebagian darinya. Abu Hurairah lalu melaporkan hal tersebut kepada Nabi saw.. Nabi saw. berkata: “Engkau ingin menangkapnya? Bacalah olehmu: ‘Subhaana man sakhkhoroka li muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallam (Maha Suci Dzat yang menundukkanmu (jin) untuk Muhammad saw.).’”

 Abu Hurairah berkata: “Aku pun lalu membaca kalimat tersebut ketika sudah berhadapan dengannya (jin). Aku lalu menangkapnya dan hendak membawanya ke hadapan Nabi saw.. Namun dia berkilah: ‘Sungguh, tiada lain engkau telah menangkap anggota keluarga yang sangat miskin dari kalangan jin. (Tegakah engkau melakukannya?) Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini.’

Di kemudian hari ternyata dia mengulangi perbuatannya, maka akupun mengadukannya kepada Nabi saw.. Beliau kembali bertanya: ‘Engkau ingin menangkapnya?’ Aku berkata: ‘Ya, tentu.’ Beliau berkata: ‘Bacalah olehmu: Subhaana man sakhkhoroka li muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun lalu membaca kalimat tersebut ketika sudah berhadapan dengannya. Selanjutnya, aku hendak membawanya ke hadapan kepada Nabi saw.. Namun dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Ketika aku melepaskannya, ternyata dia mengulangi perbuatannya untuk kali ketiga, maka akupun mengadukannya kembali kepada Nabi saw.. Beliau bertanya: ‘Engkau ingin menangkapnya?’ Aku berkata: ‘Ya, tentu.’ Beliau berkata: ‘Bacalah olehmu: Subhaanal ladzii sakhkhoroka bi muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallam.’

Aku pun lalu membaca kalimat tersebut ketika sudah berhadapan dengannya. Selanjutnya, aku katakan kepadanya: ‘Kamu telah berjanji kepadaku namun engkau dusta. Sungguh, kini aku benar-benar akan menyeretmu ke hadapan Nabi sholallahu 'alaihi wasallam ..’ Namun dia berkata: ‘Tolong lepaskan aku. Sebagai kompensasinya, aku akan memberitahumu beberapa kalimat yang jika engkau baca, niscaya semua jin baik yang laki-laki maupun yang wanita tidak akan mendekatimu.’ Aku tanyakan kepadanya: ‘Apa kalimat-kalimat itu?’ Dia menjawab: ‘Ayat Kursi. Silahkan engkau membacanya di setiap pagi dan sore.’” Abu Hurairah berkata: ‘Aku pun lalu melepaskannya dan selanjutnya aku ceritakan hal ini kepada Nabi saw.. Beliau bersabda: ‘Belumkah engkau tahu bahwa hal itu benar adanya?’”  (HR. Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra [6/237/10794] dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah [1/531-532/958])

Keempat

Hadits yang diriwayatkan dari Mu‘adz bin Jabal :
Bahwa ia pernah mendengar derap suara (yang mengganggunya) lalu berhasil menangkap pelakunya. Mu‘adz lalu berkata kepadanya: “Siapa kamu ini?!” Dia menjawab: “Aku adalah setan.” Mu‘adz berkata lagi: “Kalau begitu, ayo kubawa kau ke hadapan Rasulullah saw..” Dia berkata: “Tolong lepaskan saja aku; aku tak akan mengulangi perbuatanku ini.” Mu‘adz pun lalu melepaskannya. Di pagi harinya saat Mu‘adz menghadap Nabi saw., Nabi bertanya: “Wahai Mu‘adz, bagaimana dengan tawananmu tadi malam?” Mu‘adz menjawab: “Aku telah melepaskannya.”

Selanjutnya, di malam keduanya ketika Mu‘adz kembali merasakan gangguannya dan berhasil menangkapnya, setan tersebut kembali minta dilepaskan dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, sehingga Mu‘adz pun lalu melepaskannya. Di malam ketiganya, ketika Mu‘adz kembali merasakan gangguannya dan berhasil menangkapnya, setan tersebut kembali minta dilepaskan dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. 

Namun kali ini Mu‘adz enggan melepaskannya. Setan tersebut lalu berkata: “Tolong lepaskan aku dan sebagai kompensasinya aku akan memberitahukan kepadamu tentang 1 ayat yang jika engkau membacanya, niscaya kami (kalangan setan) tidak akan mendekati tempat yang kau bacakan ayat tersebut padanya.” Setan tersebut lalu memberitahukan bahwa ayat yang dimaksud adalah Ayat Kursi. Di pagi harinya ketika Mu‘adz menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw., beliau lalu bersabda: “Dia (setan) kali ini telah berkata benar meski dia itu biasanya bertabiat pendusta.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu‘jamul Kabir [20/101/197])

Demikian semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 15

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)



Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Merupakan salah satu do‘a ruqyah untuk orang yang kesurupan atau kerasukan jin.

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Laila ra. yang mana ia berkata:
“Ketika aku sedang duduk di sisi Nabi saw., datanglah seorang baduwi lantas berkata: ‘Sesungguhnya aku memiliki saudara yang saat ini sedang sakit.’ Beliau saw. bertanya: ‘Apa sakit yang menimpa saudaramu?’ Ia menjawab: ‘Kerasukan jin.’ Beliau saw. bersabda: ‘Silakan engkau pulang lalu bawa kemari saudaramu itu.’ Orang itupun lantas pulang dan datang lagi ke hadapan Nabi saw. dengan membawa saudaranya yang tengah sakit itu. Si sakit lalu didudukkan di hadapan beliau saw.. Selanjutnya, aku (Abu Laila) mendengar beliau saw. meruqyahnya dengan membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah); lantas 4 ayat pertama dari surah Al-Baqarah; lantas 2 ayat yang ada di tengah-tengah surah Al-Baqarah yakni Wa ilaahukum ilaahuw waahid....; lantas Ayat Kursi; lantas 3 ayat terakhir dari surah Al-Baqarah; lantas 1 ayat dari surah Ali ‘Imran yakni Syahidalloohu annahuu laa ilaaha illaa huwa....; lantas 1 ayat dari surah Al-A‘raaf yakni Inna robbakumulloohul ladzii kholaqo....; lantas 1 ayat dari surah Al-Mu’minuun yakni Wa may yad‘u ma‘alloohi ilaahan aakhoro laa burhaana lahuu bihii....; lantas 1 ayat dari surah Al-Jin yakni Wa annahuu ta‘aalaa jaddu robbinaa mat takhodza shoohibataw walaa waladaa; lantas 10 ayat pertama dari surah Ash-Shaaffaat; lantas 3 ayat terakhir dari surah Al-Hasyr; lantas surah Al-Ikhlash; dan Al-Mu‘awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas). Si baduwi yang semula sakit itupun lalu berdiri dalam keadaan telah sembuh alias tidak menderita apa-apa lagi.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya [3539])

Dalam Az-Zawa’id disebutkan: “Dalam isnad Hadits ini terdapat rawi bernama Abu Hibban (Abu Janab) Al-Kalbi yang dinilai berpredikat dha‘if. Nama asli dia adalah Yahya bin Abu Hayyah. Sementara itu, Hakim mengeluarkan Hadits ini dalam Mustadraknya dari jalur Abu Hibban dan dia berkata: ‘Hadits ini mahfuzh shahih.’” (Baca: Syarah Sunan Ibni Majah [3539] oleh As-Sindi).

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. 

Ayat Kursi 14

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)



Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Orang membacanya di saat hendak tidur, maka tidak akan diganggu setan selama tidurnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata:

 “Rasulullah saw. pernah menugasiku untuk menjaga harta zakat Ramadhan (zakat fithrah). Di satu malam, datanglah sosok seseorang lalu mengambil (mencuri) sebagian dari bahan pangan (harta zakat) itu sepenuh cidukan kedua telapak tangan. Aku pun lantas menangkap pencuri tersebut dan kukatakan kepadanya: ‘Sungguh aku akan melaporkan engkau kepada Rasulullah saw.....’ (dan seterusnya hingga akhir Hadits).” Di akhir Hadits disebutkan bahwa sosok pencuri tersebut lalu memberitahukan sesuatu kepada Abu Hurairah (sebagai kompensasi agar ia tidak dibawa ke hadapan Nabi saw.):

“Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi (sebelum kedua matamu terpejam). Niscaya engkau senantiasa dijaga oleh Allah (dalam tidurmu) dan setan takkan berani mendekatimu hingga pagi hari.” Nabi saw. bersabda mengenai ucapan sosok pencuri tersebut: “Dia (sosok pencuri itu) kali ini telah berkata jujur kepadamu meski dia itu pada kebiasaanya berwatak pendusta. Dia itu tak lain adalah setan.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya di kitab Penciptaan makhluk bab Sifat iblis dan bala tentaranya [3033])

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. 

Ayat Kursi 13

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)



Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Orang yang membacanya di seusai shalat fardhu akan berada dalam lindungan Allah hingga tiba shalat fardhu berikutnya.

Diriwayatkan dari Hasan bin ‘Ali ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Barang siapa yang membaca Ayat Kursi di setiap selesai shalat fardhu, maka dia berada dalam lindungan Allah hingga tiba shalat (fardhu) berikutnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir dengan isnad hasan. Baca: Majma‘uz Zawa’id [2/148], bab Dzikir dan do‘a yang dibaca sesudah shalat)


Mengenai Hadits ini, Al-Mundziri berkata dalam At-Targhib Wat Tarhib [2/299/2469]: “Hadits ini diriwayatkan Thabrani dengan isnad hasan.”

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 12

   بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)



Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Menjadi sebab masuknya surga bagi orang yang membacanya di setiap usai shalat fardhu.
  
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah ra., yang mana Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang membaca Ayat Kursi di setiap selesai shalat fardhu, niscaya tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.”

(HR. Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah [100]; Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah [121]; dan Thabrani dalam Al-Kabir [1/114/7532])

Hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban. Al-Mundziri berkata dalam At-Targhib Wat Tarhib 2/261: “Hadits ini diriwayatkan Nasa’i dan Tahbrani dengan beberapa sanad yang salah satunya berpredikat shahih.” Al-Haitsami berkata dalam Majma‘uz Zawa’id 1/102: “Hadits ini diriwayatkan Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath dengan beberapa sanad yang salah satunya berpredikat jayyid (bagus).” Dishahihkan Albani dalam Shahihul Jami‘ 5/339; dan dalam Silsilatul Ahadits As-Shahihah [2/697/972].

Menurut Ibnu Qayyim, maksud dari Hadits ini adalah tiada yang membatasi antara orang yang membacanya di setiap usai shalat dan surga kecuali kematian. Imam Baihaqi mengeluarkan Hadits yang semakna dengan lafazh: “Siapa yang membaca Ayat Kursi di setiap selesai shalat, maka tidak ada yang menghalangi antara dia dan masuk surga kecuali kematian. Karenanya, jika ia mati maka ia lalu masuk surga.” (HR. Baihaqi dalam Syu‘abul Iman [2/455/2385])

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 11

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat kursi merupakan salah satu ayat yang agung dalam Al-Qur'an. Ayat ini telah sering kita dengar, bahkan sebagian besar di antara kita telah menghafal ayat ini. Marilah sejenak kita mempelajari ayat ini untuk mengambil beberapa pelajaran berharga dari ayat yang mulia ini. 

Allah Ta’ala berfirman didalam Al-Qur'an surah Al Baqarah:255:


اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ {255}

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Keutamaan Ayat Ini

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan : “Ayat yang mulia ini merupakan ayat al Quran yang paling agung, paling utama, dan paling mulia. Hal ini karena ayat ini mengandung penjelasan perkara-perkara yang agung dan sifat-sifat Allah yang mulia. Oleh karena itu banyak hadist yang memotivasi manusia untuk membaca ayat ini dan menjadikannya sebagai wirid yang dibaca saat pagi dan sore, ketika hendak tidur, dan dzikir setelah sholat fardhu”

Di antara hadist yang menunjukkan keutamaan ayat kursi adalah hadist berikut :


عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ { اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai Abu Mundzir! tahukah kamu, ayat manakah di antara ayat-ayat al Quran yang ada padamu yang paling utama?” Abu Mundzir berkata: saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bertanya lagi: “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu, ayat manakah di antara ayat-ayat al Quran yang ada padamu yang paling utama?” Abu Mundzir berkata: Saya menjawab, “Allahu laa ilaaha illaa huwal Hayyul Qayyum” Abu Mundzir berkata: lalu beliau menepuk dadaku seraya bersabda: “Demi Allah, semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir”. Dan masih banyak hadist lain yang menunjukkan keutamaan ayat ini.

Penetapan Tiga Macam Tauhid

Dalam ayat kursi terdapat penetapan tiga macam tauhid yaitu tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa sifat. Pada awal ayat merupakan penetapan tauhid uluhiyah, yakni firman Allah { اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ } (Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia), maksudnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Kemudian Allah menyebutkan tauhid asma’ wa sifat dalam firman-Nya { الْحَيُّ الْقَيُّومُ} (Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri). Ini merupakan penetapan sifat hidup dan berdiri sendiri (tidak butuh kepada makhluk)i bagi Allah Ta’ala. Dan firman Allah { لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ } merupakan penafian. Allah menafikan dari diri-Nya sifat kekurangan dan cela yaitu sifat ngantuk dan tidur. Dalam firman-Nya { لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ } (kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi) merupakan penetapan rububiyah Allah, Dialah pemilik langit dan bumi dan yang ada di dalamnya.

Nama Allah Al Hayyu dan Al Qayyum

Dua nama di atas adalah nama bagi Allah Ta’ala yang terdapat dalam 3 tempat di dalam Al Quran, yaitu ayat kursi, awal surat Ali ‘Imran (ayat2), dan dalam surat Thaaha (ayat111).

Dalam nama Al Hayyu terdapat penetapan sifat hidup bagi Allah. Yaitu sifat hidup yang sempurna, tidak didahului ketiadaan dan tidak disertai kehancuran dan fana, serta tidak ada kekurangan dan cela. Kehidupan yang berkonsekuensi sempurananya sifat-sifat Allah, baik ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kemampuan-Nya, kemauan-Nya, kasih sayang-Nya, dan perbuatan yang Allah kehendaki. Dengan demikian, hanya Allah semata yang berhak untuk diibadahi, sebgaimana firman-Nya :


وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لاَيَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.”(Al Furqan:58)

Adapun dalam nama Allah Al Qayyum terdapat penetapan qayyumiyah sebagai sifat bagi Allah, yakni keadaan Allah yang berdiri sendiri. Nama Allah Al Qayyum mengandung dua hal :

Pertama. Sempurnanya ketidakbutuhan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluknya, sebagaimana firman-Nya :

يَآأَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَآءُ إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Faathir:15)

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي

“Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan mudharat sedikitpun kepada-Ku dan tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kepada-Ku “[4]

Kedua. Sempurnanya kemampuan dan pengaturan Allah terhadap makhluk-Nya. Allah menopang para makhluknya dengan kekuatan-Nya, dan seluruh makhlukk fakir (butuh) terhadap Allah. Allah tidak sedikitpun butuh terhadap makhluk. ‘Arsy, Kursi, langit dan bumi, gunung dan pohon, manusia dan hewan, semuanya fakir kepada Allah. Allah berfirman :

أَفَمَنْ هُوَ قَآئِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَآءَ قُلْ سَمُّوهُمْ

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu“. …” (Ar Ra’du :33).[5]

Meminta Syafaat Hanya kepada Allah
Ayat yang agung ini juga mengandung pelajaran penting tentang syafaat. Bahwa syafaat adalah milik Allah dan hanya boleh meminta syafaat kepada Allah semata. Allah berfirman :

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?”

Allah Ta’ala tidak melarang meminta syafaat secara mutlak, bahkan terdapat syafaat yang diterima di sisi Allah, yaitu syafaat yang mendapat izin dari Allah terhadap orang yang mentauhidkan-Nya. Syafaat yang diterima oleh Allah harus memenuhi dua syarat :

Pertama. Izin syafaat dari Allah Ta’ala. Semua syafaat adalah milik-Nya semata, sebagaimana Allah berfirman :


قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya” (Az Zumar:44)

Tidak ada sesuatupun yang memberi syafaat, baik itu malaikat maupun Nabi tanpa izin Allah ‘Azza wa Jalla.

Kedua. Ridho Allah terhadap orang yang diberi syafaat. Orang yang meminta syafaat adalah ahli tauhid yang tidak menjadikan selain Alah sebagai pemberi syafaat, sebagaimana firman-Nya :
وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“dan mereka (para malaikat) tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (Al Anbiya’:28)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :


أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

“Manusia yang beruntung dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dengan tulus dari lubuk hatinya.”

Syafaat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam –tentunya setelah mendapat izin dari Allah- tidak akan didapatkan kecuali oleh ahli tauhid murni. Ini bertentangan dengan keyakinan kaum musyrikin yang menyangka bahwa syafaat akan diberikan dengan menjadikan wali-wali mereka sebagai pemberi syafaat, serta beribadah dan mencintai sesembahan selain Allah.

Luasnya Ilmu Allah Ta’ala


يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ

“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”

Pada firman Allah Ta’ala (yang artinya) “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka” di dalamnya terdapat penetapan sempurnanya ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Allah mengetahui segala sesuatu, yang telah lalu, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Tidak ada sesuataupun yang tersembunyi, ilmu Allah mencakup semuanya. Dalam firman Allah (yang artinya) “mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” merupakan penafian (peniadaan). Allah menafikan pada makhluk mengetahui ilmu Allah, kecuali yang telah Allah berikan kepadanya. Mereka tidak mengetahui perkara ghaib, tidak ada yang mengetahu perkara ghaib kecuali Allah semata.[8]

Kursi, Makhluk Allah yang Agung
Allah Ta’ala berfirman :
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi”

Kursi adalah salah satu makhluk Allah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata :
إنه موضع قدمي الله عز وجل

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah”[9]

Kursi bukanlah ‘Arsy. ‘Arsy lebih besar dari Kursi, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shalaallhu ‘alaihi wa sallam :


أن السماوات والسبع والأرضين السبع بالنسبة للكرسي كحلقة ألقيت في فلاة من الأرض، وأن فضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على هذه الحلقة

“Sesungguhnya langit dan bumi yang tujuh dibandingakn dengan Kursi Allah bagaikan gelang yang dilempar di tanah lapang, dan keagungan ‘Arsy disbanding Kursi bagaikan tanah lapang dbianding gelang” [10]

Ini menunjukkan atas agungnya makhluk-makhluk Allah. Keagungan makhluk menunjukkan atas keagungan Penciptanya.

Allah Ta’ala Yang Maha Tinggi

وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah adalah Yang Maha Tinggi. Nama Allah Al ‘Aliy (Yang Maha Tinggi) menunjukkan tingginya Allah secara mutlak ditinjau dari berbagai sisi.

Pertama. Allah Maha Tinggi dalam dzat-Nya (‘uluw dzat). Allah istiwa’ (tinggi dan menetap) di atas ‘Arsy, Allah berada di atas segala sesuatu. Allah berfirman :
الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang istiwa’ di atas ‘Arsy .” (Thaaha:55)

Kedua. Allah Maha Tinggi dalam kekuasaan-Nya (‘uluw qodar). Sifat-sifat Allah tinggi dan agung. Sifat Allah agung, tidak menyamai dan menyerupai dengan sifat sesuatu papun, bahkan hamba tidak layak disifati dengan salah satu sifat-Nya.

Ketiga. Allah Maha Tinggi, mengalahkan yang lainnya (‘uluw qohar)

Kesimpulan

Di akhir ketika menyimpulkan kandungan ayat ini, Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan : “ Ayat ini mencakup penjelasan tentang tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Dan juga penjelasan cakupan kepemilikan, peliputan ilmu Allah, luasnya kekuasan-Nya, keagungan dan kemuliaan Allah Ta’ala, serta keagungan kebesaran-Nya, dan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Ayat ini secra khusus mengandung penjelasan tentang akidah tentang asma’ dan sifat Allah”[13]

Demikian penjelasan beberapa faedah yang dapat diambil dari ayat kursi. Semoga paparan ringkas ini bermanfaat dan menambah keimanan kita. Wa shalallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki, Artikel www.muslim.or.id

Ayat Kursi 10

  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Hadits sahih riwayat Bukhari dari Abu Hurairah

إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي فإنه لن يزال عليك من الله حافظ، ولا يقربنك شيطانٌ حتى تصبح

Maknanya: Apabila kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi karena itu akan membuatmu pendapat penjagaan Allah dan tidak didekati setan sampai pagi.

Hadits sahih riwayat Nasai. Sanadnya sahih menurut Albani

من قرأ آية الكرسي في دبر كل صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت.، ولا يواظب عليها إلا صديق أو عابد، ومن قرأها إذا أخذ مضجعه أمنه الله على نفسه وجاره وجار جاره والأبيات حوله


Artinya: Barangsiapa yang membaca ayat Kursi setelah shalat fardhu, maka tidak ada yang mencegah dia dari masuk surga kecuali kematian. Dan tidak ada yang rajin membacanya kecuali orang yang jujur dan ahli ibadah. Barangsiapa yang membacanya ketika hendak tidur maka Allah memberi keamanan baginya, bagi tetangganya, dan tetangganya tetangga, dan rumah-rumah disekitarnya.
Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 9

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arabآية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ
 جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ وَقَدْ تَكَلَّمَ شُعْبَةُ فِي حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ وَضَعَّفَهُ

Setiap sesuatu memiliki puncak, dan puncaknya Al Qur`an adalah surat Al Baqarah, di dalamnya terdapat ayat yang merupakan tuannya ayat-ayat dalam Al Qur`an yaitu ayat kursi. Abu Isa berkata; Hadits ini gharib, kami tak mengetahuinya kecuali dari hadits Hakim bin Jubair, sementara Syu'bah mempermasalahkan tentang Hakim bin Jubair dan melemahkannya. 


Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 8

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arab: آية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda yang artinya, Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi (HR. Al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan keutamaan yang terdapat dalam Ayat Kursi. Apabila kita merutinkannya, maka akan kita dapati keutamaan yang sangat banyak. Hendaknya setiap muslim bersemangat kepada apa yang bermanfaat baginya.

Ayat Kursi sendiri bukanlah ayat yang panjang dan sulit untuk dihapal, diperbaiki bacaannya, faham maknanya serta diamalkan. Seperti ayat ini mengenai kerajaan Allah, maka dituntut keimanan dan ketundukkan hati keada semua firman-Nya tanpa bantahan. Dia harus diagungkan sebenarnya didalam hati bukan malah menganggap remeh ibadah, melanggar Syariat dimana menyalahi tuntunan Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam dan shahabat didalam menjalankan Islam.

Lalu mengapa kursi dalam ayatnya? Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi melebihi agungnya Ayat Kursi (karena di dalam ayat tersebut telah mencakup Nama dan Sifat Allah). Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan kursi dengan berkata: “Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah,” (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi).

Dalam sebuah hadits, Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang,” (HR. Ibnu Hibban no. 361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani).

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ayat Kursi 7

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Ayat Kursi (bahasa Arab: آية الكرسى ʾāyatul kursī) atau Ayat Singgasana adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur'an. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.

Firman Allah didalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah: 255.

Allaahu laa ilaaha illaa huwa alhayyu alqayyuumu laa ta/khudzuhu sinatun walaa nawmun lahu maafii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi man dzaa alladzii yasyfa'u 'indahu illaa bi-idznihi ya'lamu maabayna aydiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyay-in min 'ilmihi illaa bimaa syaa-a wasi'a kursiyyuhu alssamaawaati waal-ardha walaa yauuduhu hifzhuhumaa wahuwa al'aliyyu al'azhiimu.
Artinya "Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa yang di depan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa pun daripada ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar"

Ayat ini dikenal sebagai ayat Kursi, ayat yang paling agung dalam al-Quran, malah ia disebut sebagai penghulu bagi seluruh ayat al-Quran. Dari segi sejarahnya, ia diturunkan pada waktu malam. Pada ketika itu juga Nabi memanggil Zaid selaku penulis wahyu untuk menulisnya.

Dalam ayat yang pendek ini sebenarnya terkumpul sifat utama bagi Allah yaitu ketuhanan, keesaan, hidup, ilmu, memiliki kerajaan, kekuasaan dan kehendak. Sesudah menegaskan mengenai keesaan-Nya, disusul pula dengan menyebut dua sifat-Nya yang lain, iaitu hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya.
 
Ayat paling agung
Selain itu, ayat ini mempunyai beberapa kelebihan yang tidak ada pada ayat lain. Dari kedudukannya dalam al-Quran, sabda nabi ketika ditanya oleh Abu Zar: "Ayat manakah yang diturunkan kepadamu yang paling agung?" Jawab baginda: "Ia adalah ayat Kursi" (riwayat Imam Ahmad, al-Nasai, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Pengusir syaithon
Dari segi keberkatannya dalam menghalau syaitan, sabda Rasulullah: "Di dalam surah al-Baqarah, ada satu ayat yang menjadi penghulu bagi ayat al-Quran, tidak dibacanya dalam rumah yang ada di dalamnya syaitan melainkan keluar ia daripadanya, itulah ayat Kursi" (riwayat al-Hakim).

Media menuju Surga
Dari sudut keberkatannya ketika mati dan di akhirat, sabda Rasulullah: "Sesiapa yang membaca ayat Kursi selepas setiap solat fardu, Allah akan memberikannya hati orang yang bersyukur, amalan orang yang membenarkan Allah, pahala nabi-nabi, melimpahkan rahmat-Nya dan tidak menghalangnya dari masuk syurga melainkan kematian yang akan memasukkannya" (riwayat al-Nasai).

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.  
 
Blogger Templates