Tampilkan postingan dengan label Al Falaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Falaq. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2014

Surah Al Falaq 2

: بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)


Keutamaan Surah Al-Falaq
 
Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Abdullah bin Asy-Syukhair, dengan status perawi shahih, ia berkata: seorang pria berkata, “Suatu ketika kami bersama Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, sementara orang-orang mengikuti di belakang. Dan pada waktu zhuhur tibalah saatnya Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam berhenti dan aku pun berhenti. Kemudian beliau menghampiriku lalu menepuk pundakku seraya berkata, ‘Qul a’uudzu birabbilfalaq’ Lalu Rasulullah Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam membacanya dan aku pun membacanya bersama beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku,’Qul a’uudzu birabbinnaas’ Lalu Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam membacanya dan aku pun membacanya bersama beliau. Setelah itu beliau beikata, ‘Jika engkau shalat, bacalah keduanya’.”

AlBazzar meriwayatkan dari Abdullah bin Al Aslami, dengan status perawi shahih, ia berkata, “Kami pernah bersama Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan umrah. Hingga ketika kami sampai di lembah Waqim, tiba-tiba kabut muncul .menyelimuti sehingga kami pun tersesat jalan. Manakala melihat hal itu, Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam berpaling menuju kumpulan yang pekat, lalu mendudukkan untanya. Setelah itu beliau berdiri dan berdiam beberapa lama. Beliau terus menerus sholat hingga terbit fajar. Kemudian beliau memegang kepala untanya (mengambil tali kekangnya), kemudian berjalan sementara Abdullah Al Aslami di samping beliau. Lalu Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam meletakkan telapak tangannya di dadaku. Kemudian beliau berkata, ‘Bacalah!’Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Bacalah Qul huwallaahu ahad (surah Al lkhlash)!’ Kemudian beliau berkata, “Bacalah!”. Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Qul a’uudzu birabbil faloq, min syarri maa khalaq (surah Al Falaq)’. Lalu aku membacanya hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Bacalah!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Qul a’uudzu birabbinnaas" (surah An-Naas)!’ Aku pun membaca Qul A’uudzu birabbinnaas hingga selesai. Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Beginilah cara meminta perlindungan kepada Allah karena tak ada hamba yang meminta perlindungan dapat menyamainya’.”

Sayyidatina Aisyah menerangkan: bahwa Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam pada setiap malam apabila hendak tidur, Beliau membaca Surat Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, ditiupkan pada kedua telapak tangan kemudian disapukan ke seluruh tubuh dan kepala.

Sayyidina’ Ali r.a. menerangkan: pernah Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam. digigit kala, kemudian Beliau mengambil air garam. Dibacakan Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas laludisapukan pada anggota badan yang digigit kala tadi.

‘Uqbah bin’ Amir menerangkan, ketika saya sesat jalan dalam suatu perjalanan bersama dengan Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam, Beliau membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas dan akupun disuruh Beliau juga untuk membacanya.

Barang siapa terkena penyakit karena perbuatan syaitan atau manusia, hendaklah membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas sebanyak 41 kali selama 3 hari, 5 hari atau 7 hari berturuh-turut.

Barang siapa yang takut akan godaan syaitan atau manusia atau takut dalam kegelapan malam, atau takut kejahatan manusia, bacalah Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas sebanyak 100 kali.

Ahmad bin Mani’ di dalam Musnad-nya berkata: Yusuf bin ‘Athiyah menceritakan kepada kami, dia berkata: Harun bin Katsir menceritakankan kepada kami dari Zaidbin Aslam dari ayahnya dari Ubai bin Ka’ab RA, dia berkata: Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Siapa yang membaca mu’awwidzat (Al lkhlaash, Al Falaq dan An-Naas), maka dia seolah-olah telah membaca semua yang diturunkan kepada Muhammad.”

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa’i dani Uqbah bin Amir RA, ia berkata, “Suatu ketika aku menggiring unta Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan. Lalu beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Uqbah, maukah engkau aku ajarkan dua surah yang paling baik untuk dibaca?’ Beliau kemudian mengajarkankepadaku Qul a’uudzu birabbil falaq (surah Al Falaq) dan Qul a’uudzu birabbinnaas (surah An-Naas). [Sunan Abu Daud (1462), Sunan An-Nasa'i (21158), dan Shahih Mustim (814)]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Wahai Uqbah, mintalah perlindungan dengan kedua surah tersebut, karena tidak ada orang yang meminta perlindungan dengannya dapat menyamai ke duanya.”

Ibnu Hibban di dalam kitab Shahihnya dan Al Hakim di dalam kitab Al Mustradrak meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang semakna. Dan setelah meriwayatkan hadits ini, Al Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih.”

Al Hakim disebutkan dengan redaksi: Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam berkata,”Wahai Uqbah, bacalah Qul a’uudzu birabbil falaq (Al Falaq), karena sesungguhnya tidak ada surah yang engkau baca lebih disukai dan lebih diterima oleh Allah daripadanya. Jika engkau bisa untuk tidak meninggalkannya, maka lakukanlah!”

An-Nasa’i dan Ibnu Hibban juga di dalam kitab Shahih’nya meriwayatkan hadits yand semakna bahwa Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Bacalah wahai Jabir!” Aku berkata, “Demi ayahmu dan ibuku; Apakah yang aku baca?” Beliau berkata, “Qul a’uudzu birabbil falaq dan Qul a’uudzu birabbinnaas. ” Maka aku pun membaca keduanya. Setelah itu beliau berkata, “Engkau tidak akan membaca yang seumpama keduanya.”

Ahmad meriwayatkan hadits dari perawi-perawi yang tsiqah dari Uqbah, dia berkata,”Suatu ketika aku menemui Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam lalu beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Uqbah bin Amir, maukah engkau aku ajarkan beberapa surah yang tidak diturunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan surah dalam Al Furqan yang sama dengannya? Tidaklah datang satu malam pun kecuali aku membacanya, yaitu Qul huwallaahu ahad (surah Al lkhlaash), Qul a’uudzu birabbil falaq (surah Al Falaq), dan Qul a’uudzu birabbinnaas (surah An Naas).”

Kesimpulan keutamaan ayat ayat Al-Qur'an

Untuk melindungi diri dari semua kejahatan kita harus menggantungkan hati kita dan berlindung hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan membiasakan diri membaca dzikir yang telah dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini adalah salah satu wujud kesempurnaan agama Islam. Kejahatan begitu banyak pada zaman kita ini, sementara banyak umat Islam yang tidak tahu bagaimana cara melindungi diri darinya. Adapun yang sudah tahu banyak yang lalai, dan yang membacanya banyak yang tidak menghayati dan menyakini. 

Semua ini adalah bentuk kekurangan dalam beragama. Andai umat Islam memahami, mengamalkan dan menghayati sunnah ini, niscaya mereka terselamatkan dari berbagai kejahatan. Surat ini adalah surat yang utama, dan dianjurkan dibaca setelah shalat, sebelum dan sesudah tidur, dalam dzikir pagi dan sore, juga dalam penyembuhan.

Kita memohon perlindungan hanya kepada Allah dari semua kejahatan secara umum, dan beberapa hal secara khusus karena lebih sering terjadi, lebih samar atau karena mengandung bahaya yang lebih.


Semoga Allah memudahkan kita untuk menyibukkan diri dengan do’a pada hari Arafah.

Surah Al-Falaq 1

: بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Falaq (Waktu Shubuh). Surah Makkiyyah; Surah ke 113: 5 ayat

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2. Dari kejahatan makhluk-Nya,
3. Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,
4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Ibnu Hatim meriwayatkan dari Jabir, dia mengatakan: “Al-Falaq berarti waktu shubuh. Yaitu demikian itu seperti firman-Nya yang lain: faaliqul ashbaah (Dia menyingsingkan pagi).

Firman Allah Ta’ala: ming syarri maa kholaq (dari kejahatan makhluk-Nya). Yakni dari kejahatan semua makhluk. Wa ming syarri ghoosiqin idzaa waqab (dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita). Mujahid mengatakan: “Kejahatan malam jika telah gelap gulita, yaitu saat matahari telah terbenam.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari darinya. Demikian pula yang diriwayatkan Ibnu Abi Najih darinya. Dan seperti itu juga Ibnu ‘Abbas, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, adl-Dlahhak, Khashif, al-Hasan, dan Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya ia adalah waktu malam jika telah datang gelapnya.” Ibnu Jarir dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu bulan”

Dapat saya katakan, dan pijakan orang-orang yang berpegang pada pendapat tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; Abu Dawud al-Hafri memberi tahu kami, dari Ibnu Dzi’b, dari al-Harits bin Abi Salamah, dia berkata: “’Aisyah berkata: ‘Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam pernah memegang tanganku dan memperlihatkan bulan kepadaku pada saat terbit dan beliau bersabda: ta’awwadzii billaahi ming syarri haadzal ghaasiqi idzaa waqab (berlindunglah kepada Allah dari kejahatan bulan ini jika terbenam).

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i di dalam kedua kitab tafsir dan Sunan keduanya. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan shahih.” Dan lafazhnya sebagai berikut: ta’awwadzii billaahi ming syarri haadzaa, fa-inna haadzal ghaasiqa idzaa waqaba (berlindunglah kepada Allah dari kejahatan ini, karena sesungguhnya ini adalah bulan jika terbenam).

Sedangkan lafazh an-Nasa-i berbunyi: ta’awwadzii billaahi ming syarri haadzaa, fa-inna haadzal ghaasiqa idzaa waqaba (berlindunglah kepada Allah dari kejahatan ini, karena sesungguhnya ini adalah bulan jika terbenam).

Pemegang pendapat pertama menyatakan bahwa bulan merupakan satu tanda malam jika telah masuk. Dan itu tidak bertentangan dengan pendapat kami, karena bulan merupakan tanda malam dan tidak memiliki kekuasaan kecuali pada malam hari. Demikian juga bintang-bintang yang tidak akan bersinar kecuali pada malam hari, dan ia kembali kepada apa yang telah kami kemukakan. Wallaahu a’lam.

Dan firman Allah Ta’ala: waming syarrin naf-faa-tsaati fil’uqad (dan dari kejahatan wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul). Muhahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, dan adl-Dlahhak mengatakan: “Yakni tukang sihir.” Mujahid mengatakan: “Yaitu ketika wanita-wanita itu membaca mantra dan menghembuskan pada buhul.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dia berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih dekat dengan kemusyrikan melebihi jampi ular dan orang gila.”

Di dalam hadits lain disebutkan bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi sholallahu 'alaihi wasallam, lalu bertanya: “Apakah engkau merasa sakit hai Muhammad?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu Jibril mengucapkan: bismillaahi arqiika ming kulli daa-in yu’dziika wa ming syarri haasidin wa ‘ainin, allaahu yasyfiik (dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap orang yang dengki dan mata yang hasad. Dan Allah akan menyembuhkanmu).

Mungkin yang demikian itu akibat keluhan yang dirasakan oleh Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam. Ketika beliau terkena sihir, Allah Ta’ala dengan segera menyehatkan dan menyembuhkan beliau serta menyerang balik tipu muslihat para penyihir yang dengki dari kalangan orang-orang Yahudi kepada tokoh-tokoh mereka semua. Dan Dia jadikan kehancuran mereka melalui perbuatan mereka itu sekaligus mempermalukan mereka. Tetapi dengan demikian, Rasulullah saw. tidak bersikap buruk terhadap orang tersebut suatu waktu, tetapi cukuplah Allah yang menjadi pelindung, menyembuhkan sekaligus menyehatkan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan di dalam kitab ath-Thibb dalam Shahih-nya, dari ‘Aisyah, dia berkata: “Rasulullahsholallahu 'alaihi wasallam pernah kena disihir, dimana beliau melihat seakan-akan mendatangi beberapa orang istri padahal beliau tidak mendatangi mereka. Sufyan mengatakan: ‘Ini merupakan sihir yang paling parah, jika keadaannya seperti itu.’ Kemudian Beliau bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memfatwakan kepadaku mengenai sesuatu yang dulu engkau pernah meminta fatwa tentangnya? Aku telah didatangi oleh dua orang [malaikat], lalu salah seorang di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya dekat kakiku. Kemudian yang duduk dekat kepalaku berkata: ‘Apa yang dialami oleh orang ini?’ Yang lainnya menjawab: ‘Dia terkena sihir.’ ‘Lalu siapa yang menyihirnya?’ tanyanya lebih lenjut. Dia menjawab: ‘Labid bin A’sham, seorang dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi, yang dia seorang munafik.’ Dia bertanya: ‘Dalam wujud apa sihir itu?’ Dia menjawab: ‘Pada sisir dan bekas rontokan rambut.’ ‘Lalu dimana semuanya itu berada?’ tanya temannya. Dia menjawab: ‘Di kulit mayang kurma jantan di bawah dasar sumur Dzarwan.’” ‘Aisyah berkata melanjutkan perkataannya: “Kemudian Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam mendatangi sumur itu dan mengeluarkan sihir tersebut. Selanjutnya beliau bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah, inilah sumur yang pernah diperlihatkan kepadaku, seakan-akan airnya adalah celupan pacar, dan pohon kurmanya seperti kepala syaitan.’” Dan perawi hadits ini berkata: “Kemudian beliau mengeluarkannya.” Dan diriwayatkan pula oleh Muslim.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Surah Al-Falaq

: بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Surah Al-Falaq adalah surah ke-113 dalam Al-Qur'an. Nama Al-Falaq diambil dari kata Al-Falaq yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya waktu subuh. Surat ini tergolong surah Makkiyah. Surah Al Falaq Memerintahkan agar manusia memohon perlindungan dari segala bentuk kejahatan hanya kepada Alla subhanahu wa ta'ala. Semoga surat Al Falaq ini dapat bermanfaat bagi kita semua,berikut adalah bacaan surah Al-Falaq.

Keutamaan Surah Al-Falaq

Dari Uqbah bin Amir dia berkata, Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Tidakkah engkau melihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini? Tidak diketahui ada ayat-ayat yang semisal ini sama sekali. “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.[1]

Dari Uqbah bin Amir[2] dia berkata:

“Suatu ketika saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pada sebuah rombongan dari rombongan-rombongan yang ada. Tiba-tiba beliau bersabda kepadaku, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” akan tetapi saya menghormati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga saya tidak naik ke tunggangan beliau. Beliau kembali berkata, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” Maka akhirnya saya khawatir kalau-kalau penolakan saya ini merupakan maksiat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian turun dan saya yang menaiki tunggangan beliau ???, kemudian beliau menaiki tunggangannya. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Uqbah, maukah kamu saya ajarkan dua surah di antara dua surah terbaik yang dibaca oleh manusia?” Saya menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau membacakan kepadaku “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.” Kemudian shalat ditegakkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maju mengimami kami dan membaca kedua surah ini. Setelah selesai, beliau melewatiku seraya bersabda, “Bagaimana pendapatmu wahai Uqbah, bacalah keduanya setiap kali kamu mau tidur dan setiap kali kamu bangun dari tidur.”

Dari Uqbah bin Amir dia berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan saya untuk membaca surah-surah perlindungan di akhir setiap shalat.[3]

Dari Uqbah bin Amir dia berkata, “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu beliau bersabda, “Wahai Uqbah, bacalah!” Saya bertanya, “Apa yang saya baca?” lalu beliau diam dan tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian beliau bersabda, “Bacalah!” Saya bertanya, “Apa yang harus saya baca, wahai Rasulullah?” lalu beliau diam dan tidak menjawab pertanyaanku. Saya berkata, “Ya Allah, buatlah beliau mengulang pertanyaanya kepadaku.” Maka beliau bersabda, “Wahai Uqbah, bacalah!” Saya bertanya, “Apa yang harus saya baca, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” maka saya pun membacanya sampai akhir surah. Kemudian beliau berkata lagi, “Bacalah,” saya bertanya, “Apa yang harus saya baca wahai Rasulullah?” beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia,” maka saya pun membacanya sampai akhir surah. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang yang meminta pernah meminta dengan permintaan yang semisalnya, dan tidaklah seorang yang meminta perlindungan pernah meminta perlindungan dengan yang semisalnya.[4]

Hadist Aisyah[5] telah berlalu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering membaca ketiga surah ini, meniupkannya ke kedua telapak tangan beliau, lalu beliau mengusap kepala, wajah, dan apa yang dia sanggupi dari bagian tubuhnya dengannya.

Juga dari Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jika beliau merasa sakit, beliau meruqyah diri beliau sendiri dengan membaca kedua surah perlindungan ini, lalu beliau meniupkannya. Tatkala penyakit beliau bertambah parah, saya yang meruqyah beliau dengan kedua surah perlindungan ini, lalu saya mengusapkan kedua tangan beliau padanya untuk mengharap berkahnya.
[Shahih Tafsir Ibni Katsir karya Musthafa Al-Adawi hafizhahullah]


[1] HR. Muslim (814)
[2] Shahih dengan seluruh pendukungnya. Lihat Sunan An-Nasa`i (8/250, 251, 252)
[3] Hasan. HR. Abu Daud (2/181) dan An-Nasa`i (3/69)
[4] Sanadnya hasan. HR. An-Nasa`i (8/253)
[5] Shahih, dan haditsnya telah berlalu.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.


 
Blogger Templates